Saturday, 7 November 2009

22 September

Masih libur hari ini. Pagi-pagi, saya berjalan kaki dari Matani menuju Oebobo. Tidak lama, hanya dua jam tepat. Saya tiba di sekretariat AMA-K sekitar pukul setengah tujuh pagi. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dibandingkan jalur-jalur lain yang pernah saya tempuh. Untungnya, peta jalan Kota Kupang sudah tersimpan di ponsel saya, jadi saya bisa memperkirakan jarak dan lama waktu tempuh dengan cukup akurat.

Setelah sepuluh menit di sekretariat, saya lanjut berjalan kaki ke Oeba. Jadi hari ini saya berjalan dari Matani, yang sejajar dengan Tarus, sampai ke Oeba. Maka perjalanan pagi ini terdengar seperti penggalan lagu Kupang "dari Tarus sampai Oeba jalan kaki". Di Oebobo, saya mengembalikan album yang sebelumnya saya ambil dan sekalian mengambil barang yang tertinggal di sekretariat.

Saya lalu menemui Alek untuk mengambil uang yang ia pinjam, tetapi ternyata belum tersedia. Bersama Santi, saya lanjut ke Vitus untuk membahas kepastian penerbitan Mimbar dengan metode fotokopi. Saya bersikeras agar seluruhnya difotokopi saja, termasuk sampulnya, meskipun itu berarti tampilannya tidak berwarna. Namun, Vitus menolak. Ia menyatakan siap mencarikan dana. Saya tetap mendesak untuk menggunakan cara fotokopi biasa, karena sudah sangat terlambat dan dana kami memang minim. Jadi, rencana paling realistis adalah menerbitkan edisi ini dengan fotokopi biasa. Tidak terlalu buruk. Yang penting, isi Mimbar-nya.

Cerita dari Kampus: Tentang Agus, Pidato, dan Pangan Lokal


Kemarin saya berbincang dengan Agus di kampus. Juga sempat bertemu dan mengobrol dengan Arnold dan Hetty (keduanya sudah wisuda) serta Jufri, Ama Bobby dari Sabu, dan Arul.

Percakapan dimulai ketika Jufri menceritakan soal pidatonya Agus yang baru-baru ini tampil di Flobamora Mall. Beberapa hari sebelumnya, Agus memang sempat mengajak kami ikut lomba pidato, tapi ajakan itu kami tanggapi biasa saja. Ternyata, Agus berhasil meraih juara satu, mengalahkan para finalis lainnya. Topik pidatonya adalah tentang pangan lokal, isu yang memang sedang hangat, terutama sejak digalakkan oleh Gubernur Lebu Raya lewat program “Anggur Merah”.

Topik yang diangkat Agus itu kebetulan juga sempat diusulkan Vitus untuk menjadi tema buletin Mimbar edisi berikutnya. Vitus tampaknya melihat potensi topik ini untuk menarik perhatian, mungkin juga untuk akses dana ke Lebu Raya. Ironisnya, terbitan buletin edisi saat ini saja belum rampung, tapi kami sudah membicarakan edisi berikutnya.

Menurut cerita Agus, peserta lomba pidato banyak yang tampil luar biasa. Ada yang datang dari Alor, ada dari Sikumana, bahkan ada dari komunitas pemuda Gereja Protestan. Semua pasti merupakan wakil terbaik dari komunitasnya masing-masing.

Namun, Agus menyampaikan bahwa dalam lomba seperti ini, jaringan kerja (network) sangat berperan. Ketua dewan juri, misalnya, adalah seorang pimpinan KUB di Oebufu yang punya hubungan pribadi dekat dengan Agus.

Sekali Lagi Mimbar


Hari ini saya bersama Vitus sempat berencana mengatur bahan untuk mimbar. Tapi ternyata, file di flashdisk terkena virus. Terpaksa kami pulang tanpa hasil. Saya mengusulkan untuk mencetak saja naskahnya secara mandiri, dan V kemudian memberi saya uang sebesar tiga belas ribu rupiah untuk membiayai semua cetakan isi mimbar.

Ia sempat mengajak makan, tapi saya menolak. Saya tahu, kalau ikut makan, pasti akan banyak biaya tambahan keluar. Kami sepakat, besok V akan datang lagi supaya kami bisa mencetak bersama, lalu berangkat ke Kor Kewa.

Namun, saya mulai merasa bahwa kegiatan seperti ini kurang praktis jika tidak direncanakan dengan baik. Biaya yang timbul, terutama untuk transportasi, bisa membengkak tanpa kendali. Jika ini dibiarkan, kegiatan penerbitan akan menjadi sangat tidak efisien, bahkan bisa terasa memberatkan. Padahal, alokasi dana di LPP bukan hanya untuk satu jenis kegiatan saja. Banyak kegiatan lain yang juga sama penting dan mendesaknya.

Vitus, sebagai ketua umum, seharusnya bisa merancang alokasi dana secara lebih sistematis. Idealnya, anggaran untuk penerbitan sudah ditentukan dengan jelas sejak awal. Dengan perencanaan seperti itu, target penerbitan bisa lebih realistis dan disesuaikan dengan dana yang tersedia.

PENULIS, PENGARANG, ATAU PENGGARAP?

Mungkin sudah sangat populer bahwa seorang pengarang buku dikatakan penulis. Tapi kalau lebih tepat mengamati, pengarang-pengarang ternama bukanlah penulis. Mereka hanya mendikte untuk kemudian ditulis orang lain. Tetapi kalau masih tetap dikatakan penulis, maka kata tersebut hanyalah konotasi, bukan makna lugas alias denotatif. Betapa tidak, yang disebut penulis yang belakangan tadi pun tidak disebut penulis dalam arti lugas karena ia mungkin tidak pernah memegang pena, spidol, kapur tulis atau alat tulis lainnya melainkan hanya menghentakkan jarinya di atas keyboard. Seperti itulah, pengarang novel-novel seperti sidney sheldon memang menyelesaikan novelnya dengan mendikte dan orang lain yang menuliskannya. Tentu saja, sebelum menjadi pendikte yang lancar, ia terlebih dahulu harus menjadi penulis yang lancar. Artinya, tanpa ketrampilan menulis yang bagus, seseorang sukar untuk mendikte sesuatu untuk dituliskan. Itulah kemudahan saman informasi kini. Anda bisa merekam pembicaraan untuk dicatat kemudian, dan mungkin anda bisa terheran-heran melihat bahwa ternyata pembicaraan anda sangat padat isinya bila dicatat. Cobalah rekam pembicaraan makan malam dengan sejumlah rekan, lalu catat atau ketik di komputer. Pasti berderet panjang isinya. Mendikte atau membicarakan secara panjang lebar adalah salah satu kunci mengapa buku-buku populer maupun pengetahuan tebal-tebal isinya. Sederhananya, isi buku tersebut dialihkan begitu saja dari pembicaraan yang ada. Sayang sekali, kualifikasi pembicara itu pun sebenarnya mesti di atas rata-rata para pembaca potensialnya. Ia mesti sudah lama malang melintang di dunia yang hendak dibicarakan dan punya pengetahuan yang mendalam atas apa yang dibicarakannya. Ini bisa berarti pula bahwa semua pembicaraan di atas dunia yang pernah dilakukan menyangkut topiknya sudah ia ketahui segenap-genapnya. Artinya, kalau dia bukan akademisi, ia mesti sudah membaca banyak literatur dan mendiskusikan banyak hal.

Urus Surat

Urus surat-surat ternyata tidak hanya di kantor-kantor yang berbelit-belit dan makan waktu. Di RT pun makan waktu. Alasannya klasik, dan mungkin harus diperhatikan oleh pemerintah. Yaitu blangko surat-surat tidak banyak mereka pegang. Sebut saja surat keterangan domisili, kadangkala harus dibuat ulang di komputer karena tidak ada blangko kosong.
Kalau hanya orang kecil atau yang tidak punya koneksi baik, ia mungkin harus menunggu lama untuk bisa menyelesaikan urusannya di RT tersebut, bisa berhari-hari seperti pengalaman penulis. Mungkin inilah sebabnya mengapa kebanyakan mahasiswa tidak banyak yang betah mengurus keterangan kependudukan seperti itu, yang kalau dijumlahkan semuanya, maka butuh biaya besar. Coba hitung saja, kalau KTP sementara, entah dari perda berapa, di kelurahan sering dibayar Rp 5000 sampai 10000. Di kelurahan l, sebut saja, KTP sementara hanya diberi cap pada fotocopyan yang sudah ada tandatangan lurahnya. Tapi ia dibayar Rp 10000, tanpa tanda bukti terima tentunya.
Bayangkan, KTP sementara itu hanya belaku 1 bulan. Seandainya seseorang warga taat memperbaharui kartu itu setiap bulan, ia harus mengeluarkan Rp 60ribu. Belum lagi, di RT, surat keterangan domisili pun tidak gratis. Di kelurahan M dan L, misalnya, warga harus membayar Rp 3500 untuk selembar kertas tersebut. Padahal surat ini mesti harus dibawa tiap kali mengurus KTP sementara.
Format KTP sementara pun ternyata berbeda dari satu kelurahan ke kelurahan lain. Ada yang tidak menyiapkan kolom foto sehingga kadangkala menyulitkan untuk beberapa urusan.
Di desa-desa, keadaannya lain. Blanko surat pindah saja formatnya dibuat sendiri oleh warga. Untunglah ada warga yang berstatus mahasiswa sehingga bisa mengonsep surat-surat aneh itu.
Untuk urus surat keterangan domisili di Kupang memang mesti ada surat pindah dari kampung. Anehnya, di kantor kelurahan banyak pegawainya yang nyambi jadi calo KTP. Apes deh. Tapi susah berteriak macam-macam di luar. Di kantor kependudukan sendiri, meski kepala kantornya pernah janji di koran bahwa urusan itu bisa dipercepat, keadaannya sama. Itu sama saja dengan janji di akhir musim kampanye, muluk-muluk.
Di kantornya, urus KTP masih juga makan waktu. Berbicara di Indonesia, itu bukan hal asing tentunya. Mesti ada koneksi atau uang banyak. Ada satu adegan di serial film KING-KONG yang terkenal itu. Entah di episode berapa, digambarkan dengan telanjang sebuah adegan yang berlangsung di Indonesia. Di pembukaan film, tertulis sebuah pelabuhan terkenal di Indonesia. obyek vital yang oleh kru pembuat film digambarkan ada dengan penjagaan tentara yang ketat. Wajah petugas bersenjata tentu saja tegas dan sangar. Ia mesti tidak boleh melewatkan apapun atau siapa pun yang tidak berhak untuk masuk ke sana. Lalu, dari sela-sela kontainer, muncul seorang penyelundup. Orang kulit putih. Ia ditahan dengan todongan senjata di tempat itu juga. 'tidak ada yang boleh lewat sini' , begitu kira-kira kata si petugas.
Si penyelundup mengambil segulung dolar sementara petugas mengawasi sekeliling, apa ada yang memergoki. Aman. Penyelundup memberi uangnya, lalu mengangkat barang selundupannya ke kapal. Petugas bersiul saja, senang dengan isi kantong yang bertambah. Itulah indonesia di gambaran film-film amerika. Petugas yang dibayar untuk melanggar aturan. Hukum yang longgar, pasti terkait pula dengan petugas. Tapi Jangan sampai ini merambat pula ke atas....ke istana hahaha. Dari kalangan istana pun sebenarnya ada hal yang memalukan bagi saya. Ya jujurlah. Coba baca tuh buku tulisan asisten susilo yang berjudul 'kita bisa' itu. Dia ceritakan tentang kisah mengalirnya bantuan ke aceh saat bencana beberapa tahun lalu. Ada satu bantuan yang tertahan berbulan-bulan di dermaga, dan mungkin begitu pula dengan nasib bantuan lainnya. Si Pengirim bantuan lalu potong jalur, mengadu lewat perantara sampai ke telinga presiden. Sekali presiden berkata, bantuan langsung dikirim.
Mengapa memalukan? Karena satu urusan yang terjadi di sana akhirnya lancar karena koneksi. Artinya, ini terjadi juga di istana sana. Coba bayangkan bagaimana urusan lain yang sebenarnya lebih penting tapi tak ada jalur koneksi ke istana, bagaimana nasibnya? Karena kenal dengan kalangan istana, urusan seseorang lancar. Prioritas diambil berdasar koneksi, bukan berdasar pentingnya. Tanpa sadar, kita memang sering melakukan hal yang sama, semua orang berpeluang sama. Untuk itu, orang sebaiknya dibatasi. Dengan aturan yang sehat. Aturan dibuat supaya orang jangan berlaku seenaknya memungut uang tanpa bukti bayar misalnya yang sering berlangsung di birokrasi2. Oh, ya. Pagi ini cukup ini dulu ya. Mesti ke kampus ni.

Jumad, 11 September

Catatan Hari Ini

Kemarin saya membaca novel Amerika berjudul Plain Truth: dalam bahasa Indonesia berarti Kebenaran Sederhana. Saya ambil dari Vera. Ini novel kriminal, dan sebagaimana judulnya, ceritanya menyentuh persoalan kebenaran, dalam bentuk yang tidak selalu tampak jelas. Pembukaannya menarik: menggambarkan daerah peternakan dengan cukup hidup, lalu langsung masuk ke konflik utama: kasus seorang bayi yang ditemukan meninggal di lingkungan komunitas Amish, sebuah kelompok religius yang mengisolasi diri di pedalaman Amerika.

Menariknya, penulis novel ini tidak terjebak dalam satu genre seperti banyak novelis populer lainnya. Dari daftar karyanya, terlihat bahwa ia cukup beragam dalam eksplorasi tema. Dan rupanya, ia pernah memenangkan penghargaan resmi dalam dunia kepenulisan. Patut dibaca lebih lanjut.

Sore kemarin, saya pergi bersama Obet ke rumah ketua RT untuk mengurus surat keterangan tidak mampu agar ia bisa mengajukan beasiswa. Katanya, beasiswa itu sebenarnya sudah tersedia sejak semester pertama. Saya juga sempat mengecek printer milik Erson, tapi katanya belum bisa digunakan.

Di kamar, cucian menumpuk. Sabun cuci habis. Dan seperti biasa, pekerjaan domestik terbengkalai ketika pikiran penuh oleh rencana-rencana lain.

Pagi ini muncul ide: coba hubungi Ian, barangkali bisa kerja sama untuk menulis cerpen yang akan dikirim ke Pos Kupang, atau media lain. Sekalian juga, saya ingin mengedit kembali novel yang sudah saya tulis. Mungkin Oos bisa diajak diskusi soal penulisan. Dia mantan seminaris, mungkin punya kenalan editor di ruang bahasa. Saya sadar, tulisan saya ini masih campur aduk dan morat-marit, dan kemampuan berbahasa saya pun belum memadai.

Di sinilah pentingnya peran seorang editor: untuk membantu menyusun dan meluruskan bahasa. Kalau bisa, saya juga ingin ajak Oos bergabung dengan kelompok latihan menulis yang kami bentuk. Sekalian tunjukkan padanya cara baru mengetik di HP, pasti bisa dipelajari.

Soal novel yang sedang saya garap, perkembangannya lambat. Banyak bagian harus ditambal-sulam. Tanpa komputer, semua terasa berat dan tidak efisien. Tapi saya tidak ingin berhenti.

Musim pancaroba sedang berlangsung. Banyak orang terserang sakit ringan: pilek, batuk, demam. Cuaca berubah begitu cepat : kadang panas, lalu mendadak dingin dalam hitungan jam.

Kabarnya, kemarin Ama pulang ke Larantuka dengan pesawat karena sakit. Tapi dari cerita yang saya dengar, sepertinya hanya pilek biasa. Ini mengingatkan saya pada kisah Ian, teman dari Maumere. Ia pulang kampung hanya karena orang tuanya bermimpi buruk. Di kampung, mimpi seperti itu dianggap pertanda. Maka setelah kuliah siang, ia langsung terbang ke kampung. Upacara adat diadakan malam itu juga. Keesokan harinya, ia kembali ke Kupang dan sempat ikut kuliah pagi.

Pagi ini saya berjalan di jalan raya. Tidak banyak orang berolahraga. Hanya terlihat sekelompok gadis berjalan bersama menuju misa pagi di kapel seminari. Mungkin mereka tinggal di asrama yang sama dan punya kebiasaan ikut misa pukul 5.30 pagi.

Di kota ini, suasana ramai baru terasa saat sore menjelang malam. Irama hidup orang kota memang berbeda jauh dengan orang desa: tidur larut, bangun saat matahari sudah tinggi.

Senin, 7 September

Catatan: Tentara dari Witihama dan Pekerjaan Hari Ini


Kemarin di A, seorang tamu datang untuk mengambil kiriman yang dibawa oleh T. Sayangnya, saya lupa menanyakan namanya. Mungkin karena merasa kurang sopan menanyakan nama secara langsung kepada orang yang lebih tua, sebuah kebiasaan yang masih kuat kami pegang.

Tamu itu berasal dari Witihama. Ia masih keluarga dengan Kak Rus, kenalan T yang tinggal dekat Kapela Tuan Meninu di Larantuka. Seperti pertemuan pada umumnya antara yang muda dan yang tua, ia pun memberi banyak dorongan dan berbagi pengalaman. Ia berpesan agar kami serius dalam kuliah karena perjuangan dan pengorbanan untuk sampai di kota ini bukan hal kecil.

Ternyata ia adalah anggota Angkatan Udara, berdinas di Penfui, dan tinggal di kompleks perumahan tentara. Ia bercerita, masuk tentara tahun 1990 setelah melewati seleksi yang sangat ketat. Dari hampir 3.000 peserta yang mengikuti tes, hanya sekitar 30 orang yang lolos ke tahap lanjutan di Jakarta. Di sana pun, seleksi masih berlanjut, dan hanya segelintir yang diterima. Salah satu syarat saat itu adalah memiliki prestasi di bidang olahraga. Ia sendiri memiliki sertifikat pelatih bela diri dan pernah beberapa kali menjuarai lomba lari 10K dari Witihama ke Waiwerang.

Setelah lulus SMP di kampung, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Santo Karolus, yang dikelola Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui. Di kesatuannya sekarang, ia cukup disegani, selain karena senioritas, ia juga satu-satunya anggota dari NTT di angkatan tahun 1990.

Tentang pendidikan militer, ia menekankan bahwa bagi anak-anak baru, seharusnya bimbingan datang lebih dulu sebelum tindakan keras. Baginya, perlakuan tegas baru pantas diberikan setelah dua bulan, ketika mereka sudah mulai mengerti sistem. Ia juga menekankan bahwa di Angkatan Udara, hukuman fisik yang berlebihan tidak dianjurkan karena bisa merusak sistem saraf, misalnya push-up dengan kepalan tangan yang bisa memberi tekanan berbahaya pada ujung tinju.

Rabu, 2 September



Sekretariat adalah pusat informasi, demikian kata ketua umum AMA. Memang betul demikian. Di sana bisa saya temui informasi tentang kegiatan-kegiatan di organ lain melalui informasi buletin.
Oh, ya. Ada ide baru nih menyesuaikan isi mading dengan isi buletin. Isi mading sendiri memang jauh lebih sedikit dari isi buletin, tapi mading belum pernah ada isinya kini.

Bagi anda yang terbiara menulis, anda mungkin tidak suka membahas secara lisan suatu soal. Dan bagi anda, mungkin, kehadiran orang lain adalah untuk bekerja, bukan untuk membahas topik. Kenapa? Karena membahas topik selalu anda lakukan melalui media tulisan, di mana muatan materinya seperti (bukan sebenarnya) jauh lebih padat.
Ringkasnya bahwa kalau dengan menulis, anda membahas topik tertentu dengan ratusan bahkan ribuan kata sehari, dan hak ini tidak mungkin anda lakukan dengan percakapan. Dan sepertinya anda akan jarang berbicara.
Ups, kamu tahu tidak kalau tulisan ini saya ketik sementara saya berjalan? Ya. Saya mengetik tulisan ini dalam perjalanan dari sekretariat menuju kostnya Alek, sepanjang perjalanan. Kok bisa? Ya iyalah. Saya pakai hp nokia untuk mengetik ini. fitur prediksi di kotak catatan saya hidupkan, lalu saya pun mulai mengetik. Mungkin anda bisa bertanya, apakah saya berkonsentrasi di jalan ramai? Ya. Ini keuntungannya. fitur prediksi memudahkan kegiatan mengetik. Anda hanya pakai sembilan tombol dengan memencet satu kali untuk huruf apapun. Dan karena tombolnya hanya sembilan buah, maka saya pasti masih bisa mengawasi jalan sementara tangan lainnya memencet tombol.

MIMBAR


Sejak pagi saya berada di tempat A, mengetik berita untuk V dan menyelesaikan tulisan opini. A sendiri sedang menulis opininya dengan referensi dari internet, menggunakan ponsel milik Obet.

Oh ya, hampir saya lupa. Orang M yang saya tulis kemarin ternyata bernama Pak S L. Ternyata, salah satu kerabatnya, M, cukup akrab dengan A.

Tadi malam, V datang ke kost untuk meminta saya menjadi ketua termandat sampai hari Selasa nanti, karena ia harus pulang kampung. Setelah menyampaikan itu, ia segera menyerahkan surat mandat secara resmi.

Vitus berjanji bahwa sepulangnya nanti, ia akan membawa dana yang cukup untuk mencetak edisi terbaru MIMBAR, yang rencananya akan diedarkan pada hari Minggu, bertepatan dengan pertemuan di sekretariat.

Tentang Dana dan Distribusi

Sebenarnya, kalau sistem pemasaran buletin ini berjalan baik, kami tidak perlu bergantung pada sumbangan dari luar. Ini sudah saya sampaikan kepada A yang selama ini menangani distribusi. Sayangnya, distribusi selama ini belum efektif, sehingga pemasukan yang seharusnya bisa dijadikan modal untuk penerbitan malah tidak kami terima.

Akibatnya, setiap kali hendak terbit, kami selalu membutuhkan suntikan dana segar dari pengurus, karena tidak bisa mengandalkan kas mandiri. Selain itu, distribusi sering hanya diserahkan begitu saja kepada pengurus, dan pembayaran dari mereka pun seringkali tidak lancar atau tertunda.

Tentang Isi dan Tujuan Media

Menyangkut konten media, saya masih berpegang pada saran dari Kaka Dion Bata bahwa media pemuda seperti ini sebaiknya memuat karya-karya mahasiswa berdasarkan bidang ilmu mereka masing-masing. Ada banyak keuntungan dari pendekatan ini:

  1. Materi lebih bisa dipertanggungjawabkan, karena ditulis oleh orang yang memahami bidangnya.

  2. Pengadaan materi lebih lancar, karena mahasiswa menulis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri.

  3. Terjadi sosialisasi potensi diri, di mana mahasiswa bisa mengenalkan gagasan dan perkembangan keilmuan mereka kepada publik kampus.

  4. Keanekaragaman isi terjamin, karena berasal dari berbagai latar belakang studi.

  5. Melatih kemampuan menulis ilmiah, yang nantinya akan sangat berguna untuk pengembangan akademik masing-masing penulis.

Saya melihat, pendekatan ini sangat relevan dengan semangat kami untuk menjadikan buletin bukan sekadar tempat berkabar, tetapi sebagai wadah latihan intelektual dan ekspresi akademik yang sehat.

Catatan Menjelang Wisuda A M

Hari ini ada persiapan wisuda Universitas Nusa Cendana (Undana). Yang akan diwisuda cukup banyak, termasuk salah satu teman lama saya, A M. Kami sudah berteman sejak SMA dan sama-sama melanjutkan ke Fakultas Teknik. Kini, kami sudah memasuki semester sebelas, dan A termasuk yang berhasil wisuda pada semester sepuluh, tergolong cepat, mengingat rata-rata mahasiswa teknik menyelesaikan kuliah cukup lama.

Rencananya, kami akan ke lokasi wisuda dengan jalan kaki saja karena tempatnya cukup dekat dari kost kami, yaitu di Oebufu. Tapi akhirnya kami naik oto, karena Awis kebetulan punya uang untuk ongkos. Kami hanya berjalan kaki sampai ke cabang El Tari III, lalu naik oto dari sana.

Perjalanan ini menjadi semacam momen refleksi bagi saya, mengingat kembali jejak panjang yang telah kami tempuh. Kami sama-sama berasal dari daerah pedalaman pertanian di Adonara, dari desa yang dahulu satu, Desa Baya. Kini, desa itu telah dimekarkan menjadi dua, namun tetap menggunakan nama lama, yang sebenarnya mengacu pada nama tempat di kampung kami, bukan di wilayah mereka yang baru.

Di desa seperti itu, profesi guru sangat dihargai. Banyak guru yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang tinggi. Di desa tetangga, seorang guru bernama Pak I bahkan berhasil mendidik anak-anaknya hingga jadi dosen di perguruan tinggi. Ada yang sudah bergelar Doktor Fisika, Master Teknik, dan dua lainnya kini menempuh studi S2. Pak I berasal dari Desa Lite. Banyak guru lain di wilayah kami pun memiliki semangat serupa dalam menyekolahkan anak-anak mereka.

Menulis: Dari Kepercayaan Diri hingga Makna Berbagi

Menghargai hasil kerja orang lain adalah naluri penting dalam dunia kerja media, terlebih lagi dalam media kami yang sedang berada di ambang sekarat. Di sini, setiap orang dituntut peka, mampu menangkap sisi positif dari hal sekecil apa pun yang dilakukan orang lain, meski tampaknya sepele.

Di Mimbar, beberapa edisi lalu, kami punya penyumbang opini yang cukup produktif: Ama S O. Tapi bagaimana kesan dari mantan ketua, yang kebetulan dekat dengan Ama S? Abang R R T justru sempat meragukan kemampuannya. Ia bertanya, benarkah Ama S bisa menulis opini secara utuh?

Faktanya, saat itu Abang R belum tahu bahwa Ama S telah rutin menyumbangkan tulisannya. Saya sendiri pernah menugaskan V N menulis opini. Saya berikan judul dan arahannya, dan ia kerjakan dengan penuh semangat, mungkin karena sesuai dengan bidang studinya, yaitu bahasa.

Saya juga pernah menugaskan orang lain. Secara kemampuan, mereka bisa saja menyelesaikannya, tapi mereka sudah kehilangan kepercayaan diri jauh sebelum mencoba. Sebut saja A, yang kuliah di jurusan hukum. Kali ini, Pak Ketua pun meragukan apakah A mampu menyelesaikannya. Padahal, topik yang diangkat justru sangat relevan dengan disiplin ilmunya.

Keraguan ini hanya mengulang keraguan sebelumnya terhadap Ama S. Tampaknya ada kecenderungan di lingkungan kami untuk menganggap pekerjaan menulis opini hanya layak dilakukan oleh mereka yang berada di lingkaran pengurus inti. Ironisnya, mereka justru sering kekurangan waktu, bahkan kemampuan menulis mereka pun belum tentu sebanding dengan kelihaian mereka berpidato.

Catatan Hari Ini: Penyelesaian Buletin, Komputer Tetangga, dan Politik Kecil dalam Kehidupan Sehari-hari

Hari ini rencananya saya ingin menyelesaikan buletin yang sudah mulai dikerjakan beberapa waktu lalu. Sayangnya, wawancara yang direncanakan dengan Pak Ketua belum bisa dilakukan karena beliau tidak berada di tempat. Sisa pekerjaan yang belum terselesaikan hanya berupa satu opini dan rencana kerja ke depan, yang akan dimuat dalam rubrik Agenda.

Di sekretariat, suasananya sepi. Pak Ketua tidak ada, dan semua staf redaksi sedang berlibur. Tidak ada yang bisa diajak berdiskusi atau dimintai bantuan.

Pekerjaan penyuntingan akhirnya saya kerjakan di komputer milik tetangga saya, seorang dari Manggarai. Untungnya, ia jarang memakai komputernya, sehingga saya bisa menggunakannya selama beberapa hari terakhir.

Sebenarnya saya sempat menghubungi seorang kawan dari Adonara untuk membantu saya, khususnya menyediakan fasilitas komputer. Tapi dia menolak. Alasannya, dia tidak menerima flashdisk karena takut terkena virus. Di sisi lain, printer miliknya pun sedang kehabisan tinta, jadi sebenarnya kerja sama pun tidak memungkinkan.

Hal-hal seperti ini membuat saya teringat pada "politik kecil-kecilan" dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana membuat orang lain mengikuti kehendak kita tanpa paksaan langsung. Dulu, saya pernah punya adik kost yang memiliki HP, dan saya sangat butuh meminjamnya waktu itu. Tapi dia menolak mentah-mentah. Saya sudah mencoba berbagai alasan, bahkan yang ekstrem, tapi dia tetap keras kepala. Dia juga mengajukan alasan tandingan yang saya tahu hanya dibuat-buat.

Apa yang saya lakukan? Saya dekati seorang teman perempuan, yang memang dikenal suka membantu. Meski menurut saya biasa-biasa saja, ternyata dia cukup disegani oleh si adik kost tadi. Hasilnya? Dengan satu kalimat dari teman perempuan itu, adik kost saya langsung menyerahkan HP-nya tanpa perlawanan. Mungkin inilah yang disebut lobi: seni menyampaikan kehendak melalui orang ketiga yang punya pengaruh.

Beberapa hari ini, suhu udara cukup panas, baik siang maupun malam. Hari ini juga adalah hari pertama pelaksanaan MABIM di Politeknik Negeri Kupang. MABIM mereka dilaksanakan dengan bantuan pihak militer, entah dari kesatuan mana, tapi yang jelas, kedisiplinan adalah hal mutlak bagi mereka.

Obet, salah satu peserta, telah mempersiapkan perlengkapan MABIM sejak kemarin: karung goni yang dijadikan tas, seragam kegiatan, dan rambut yang sudah dicukur hampir botak sejak sore kemarin.

Catatan Tentang Pameran dan Isu yang Menyertainya


Kemarin saya tidak jadi pergi ke pameran, meskipun kabarnya cukup ramai. Rupanya saya bukan satu-satunya yang memutuskan untuk tidak datang. Banyak juga yang memilih absen, terutama karena beredarnya sebuah isu mengerikan: bahwa ada seseorang yang berkeliaran di area pameran dengan membawa alat suntik berisi darah terinfeksi HIV/AIDS, dan orang itu belum berhasil ditangkap aparat.

Isu itu menyebar sangat cepat. Tapi bagi saya pribadi, ini bukan hal baru. Saya pernah membaca kabar serupa yang muncul di sebuah perkampungan di Irian. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Kor Kewa Ama, disebutkan bahwa warga enggan berkunjung ke kota dengan berbagai fasilitas hiburannya, karena takut tertular HIV dari seseorang yang disebut-sebut gentayangan dengan alat suntik berisi darah terinfeksi. Bunyi isunya hampir identik.

Meski malam ini tidak bersemangat ke sana, saya memang pernah berkunjung ke pameran itu sebelumnya. Stand yang langsung menarik perhatian saya, mungkin Anda sudah bisa menebaknya, adalah Gramedia. Selain itu, ada satu stand yang juga saya kunjungi, yaitu stand yang memamerkan berbagai contoh alat mesin sederhana, yang diklaim bisa diterapkan di pedesaan.

Ternyata, stand itu dikelola oleh sebuah lembaga bernama Badan Pemberdayaan Desa. Yang menarik bagi saya tentu bukan namanya, tapi peralatan yang mereka tampilkan. Namun, ketika saya mencoba mencari tahu struktur organisasi badan tersebut: siapa saja yang terlibat, adakah divisi teknik, atau siapa yang bisa diajak berdiskusi soal alat-alatnya, tidak ada data apa pun yang disediakan. Padahal saya bertanya bukan sekadar iseng; latar belakang saya dari teknik mesin membuat saya cukup antusias ingin memahami cara kerja alat-alat itu lebih dalam.

Beberapa alat yang dipamerkan pun cukup meragukan dari segi teknis. Misalnya, mesin perontok padi yang mereka tampilkan, rangkanya terbuat dari kayu dan dipaku seadanya, dengan poros besi berukuran kecil. Saya jadi bertanya-tanya: apakah alat seperti itu benar-benar kuat dan tahan digunakan dalam kondisi kerja sebenarnya? Lebih dari itu, tidak ada informasi teknis yang tersedia. Tidak ada data beban kerja yang ideal, tidak ada panduan perawatan, bahkan tidak ada petugas teknis di lokasi yang bisa memberi penjelasan.

Akhirnya, kunjungan ke stand itu terasa kurang memuaskan. Sayang sekali, sebab pameran seperti ini justru bisa menjadi jembatan penting antara teknologi dan kebutuhan masyarakat desa, jika saja dikelola dengan lebih serius dan profesional.


Bertahan untuk Single Fighter


Pagi ini saya menyelesaikan pekerjaan mengedit halaman buletin. Pekerjaan itu terpaksa saya tangani sendiri karena keterbatasan fasilitas dan kurangnya orang yang bersedia membantu. Tugas layout yang sebelumnya saya percayakan kepada seorang kawan ternyata berlarut-larut, dan sepertinya ia memang tidak berniat menyelesaikannya. Kalau saja ada sedikit itikad baik, tentu ia akan menghubungi saya untuk menuntaskan pekerjaan ini bersama.

Hal ini mengingatkan saya pada fenomena yang sering terjadi dalam media kepemudaan: semua seakan bergantung pada satu orang, bukan hasil kerja bersama. Ini bukan hal baru. Dalam sejarah, saya pernah membaca bahwa media pelajar dan pemuda di awal kemerdekaan pun kerap dikelola oleh segelintir, bahkan hanya satu orang tokoh. Apakah ini pertanda bahwa para pemuda memang sulit bekerja sama dalam bidang yang "kering tepuk tangan" seperti media? Bekerja di media, apalagi media internal, memang jarang mendapat perhatian apalagi pujian. Bahkan dalam forum-forum yang membahas media, para pekerjanya sering tidak banyak didengar.

Saya tahu betul perasaan itu. Dalam satu pertemuan, meski saya menjabat sebagai pimpinan penerbitan, pendapat saya tidak dianggap penting. Padahal, sayalah yang nantinya harus mengatur dan mengkoordinasikan pekerjaan semuanya. Dalam penerbitan kami, yang sebenarnya lebih bersifat latihan dan sering dianggap main-main, kami mencoba menghadirkan perbedaan dibanding lembaga sejenis sebelumnya yang nyaris tidak berfungsi. Kami bergerak dengan sumber daya terbatas, fasilitas pinjaman, dan tenaga kerja yang nyaris hanya oleh satu orang: saya sendiri. Namun saya banyak dibantu pada kegiatan wawancara, pengumpulan tulisan opini dan distribusi oleh beberapa yunior dan pendanaan oleh ketua umum.

Halaman pertama.

(1)

Ini halaman pertama.

Soal catatan yang "bagus", saya pikir itu hanya soal penilaian saja, dan penilaian selalu subjektif. Bagi saya, tidak ada yang namanya catatan yang bagus, bahkan jika itu ditulis oleh Sidney Sheldon (pengarang favorit ibu-ibu) sekalipun. Yang ada hanyalah peristiwa yang kuat, dan penafsiran yang tajam dan kaya atas peristiwa itu. Soal penulisan? Itu soal kebiasaan dan keterampilan teknis yang bisa dilatih.

Sebuah catatan yang sederhana namun terasa "hidup", biasanya ditulis oleh mereka yang sudah cukup lama mengasah keterampilan menulis, baik lewat praktik maupun lewat pembacaan terhadap karya-karya penulis lain. Banyak dari kita belajar menulis dengan meniru. Dan itu tidak salah. Bahkan diperlukan.

Setiap pengarang bisa punya gaya khasnya sendiri. Dalam prosesnya, seorang penulis akan sampai pada titik di mana ia menemukan suaranya sendiri.
Hahaha... Terlalu teoritis ya? Padahal saya sendiri sedang melanjutkan proses latihan teknis yang sederhana itu:menulis.

Salah satu latihan yang sangat membantu dan patut dijadikan pegangan bagi siapa pun yang ingin belajar menulis adalah dari buku kecil berjudul Berguru kepada Sastrawan Dunia (entah siapa pengarangnya, saya lupa). Salah satu latihannya sangat membekas:
Bayangkan, saya pernah diminta untuk menggambarkan tangan seorang petani. Kalau Anda pernah mencobanya, mungkin Anda tahu betapa sederhana tapi kuatnya latihan ini.

Contoh penggambarannya seperti ini:

“Tangannya yang cokelat itu diletakkannya di atas meja. Ada batas yang sangat jelas antara bagian atas yang berwarna tua dan bagian bawah yang lebih terang. Dua bekas luka memanjang terlihat di kelingking kirinya. Kulit di buku-bukunya mengkerut, berlipat, mirip perut babi gemuk. Cabang-cabang urat menonjol, menjalar di atas tulang telapak seperti tali-temali di atas ranting. Bulu-bulunya yang hitam tumbuh lebat dari pergelangan ke atas. Kuku-kukunya, yang tampaknya sudah seminggu tak dipotong, ujungnya menghitam...”

Dan masih berlanjut...

Latihan lain yang saya ingat adalah membuat variasi setting tempat berdasarkan suasana hati tokohnya. Pernahkah Anda mencoba menggambarkan dermaga dari sudut pandang seseorang yang sedang jatuh cint, lalu membandingkannya dengan penggambaran dari seseorang yang sedang sedih?
Gambarnya pasti berbeda.
Dan di sanalah keindahan kepenulisan itu bekerja.

Untuk menghasilkan informasi.

Guna media penyimpanan pada HP adalah untuk menghasilkan data, bukan untuk menyimpannya. Penyimpanan informasi dapat dilakukan dengan medium dengan kapasitas penyimpanan yang besar, semisal memori komputer. Jadi bagi saya, fungsi HP tidak sesuai untuk menyimpan gambar-gambar kenangan sekalipun. Semua gambar yang telah dihasilkan lantas dihapus saja supaya masih tinggal sisa ruang penyimpanan yang cukup. Penyimpanan terbesar di HP yang sekarang kami miliki adalah sebesar satu gigabyte. Saya biasa pakai untuk memotret dan kemudian menghapusnya kembali setelah dipindahkan ke komputer. Atau menjadikannya perekam yang bagus karena media perekam hanya akan mati setelah kapasitas penyimpanannya habis.

Keuntungan menggunakan media ini antara lain fasiltas perekam suara maupun gambar serta teks. Perekam suara mempunyai format amr, perekam gambar punya format jpeg, dan perekam teks dengan format text. Antara satu dan lainnya bisa dipertukarkan baik di komputer maupun di HP sendiri. Di komputer, saya bisa mengetik langsung percakapan, dialog, pidato atau ucapan monolog. Saya bisa pula mengetik teks yang dihasilkan dengan memotret lembaran kertas, baik koran maupun buku. Dan untuk gambar sendiri, ada banyak formatnya yang bisa saling dipertukarkan. Kalau untuk suara, saya bisa menukarnya dari format wav menjadi mp3 dengan menggunakan video konverter.

Kemudahan yang lain bisa anda pelajari kalau anda tidak punya PC dan anda hendak mengetik teks yang panjang. Lembaran catatan pada HP dapat anda gunakan. Caranya, buka fitur catatan pada agenda, aktifkan prediksi kata, dan mulailah mengetik. Ketikan itu disimpan dalam format text dan terbaca dengan program notepad pada komputer. Dari program notepad ini, anda tinggal klik opsi file dan simpan dengan format doc yang bisa dibaca dengan program ms word. Mudah kan?

Masalahnya kini adalah untuk memindahkan dari HP ke komputer. Anda bisa menggunakan kabel data atau bluetooth. Memang, untuk mengetik makalah di PC, harga rental sangat tinggi, yakni 1500 per jam. Padahal, kecepatan mengetik pada HP masih lebih bisa diandalkan dengan mengaktifkan prediksi.

Tombol yang hanya berjumlah sembilan menyediakan kemudahannya.

Thursday, 15 October 2009

Minggu, 30 Agustus 2009

Kayaknya hari ini untuk pertama kalinya saya punya catatan harian yang bisa dibuat tiap hari dengan format elektronik. Apa pasal? Karena saya baru tahu kalau ketikan dalam format text bisa dibuat di HP.

Selama ini saya memimpikan sebuah alat yang mampu digunakan untuk memasukkan catatan dengan cara yang mudah. Alat yang saya impikan ini hendaknya bisa berguna untuk mencegah duduk berlama-lama untuk mengetik di depan rental komputer. Ternyata alat tersebut tidak jauh-jauh ada. Dengan menggunakan HP pun saya bisa melakukannya. Syukur atas teknologi yang memudahkan ini. Dengan ini, saya tidak perlu melakukan penggandaan pekerjaan. Kalau dulu, untuk menghasilkan ketikan, saya mesti terlebih dahulu mencatat di kertas, kemudian menunggu waktu yang tepat untuk mengetiknya, yaitu ketika teman saya yang ada komputernya ada di tempat. Ini tentu saja rumit dan saya jadinya tidak produktif.

Coba

Halaman pertama