Ia sempat mengajak makan, tapi saya menolak. Saya tahu, kalau ikut makan, pasti akan banyak biaya tambahan keluar. Kami sepakat, besok V akan datang lagi supaya kami bisa mencetak bersama, lalu berangkat ke Kor Kewa.
Namun, saya mulai merasa bahwa kegiatan seperti ini kurang praktis jika tidak direncanakan dengan baik. Biaya yang timbul, terutama untuk transportasi, bisa membengkak tanpa kendali. Jika ini dibiarkan, kegiatan penerbitan akan menjadi sangat tidak efisien, bahkan bisa terasa memberatkan. Padahal, alokasi dana di LPP bukan hanya untuk satu jenis kegiatan saja. Banyak kegiatan lain yang juga sama penting dan mendesaknya.
Vitus, sebagai ketua umum, seharusnya bisa merancang alokasi dana secara lebih sistematis. Idealnya, anggaran untuk penerbitan sudah ditentukan dengan jelas sejak awal. Dengan perencanaan seperti itu, target penerbitan bisa lebih realistis dan disesuaikan dengan dana yang tersedia.
Apapun keadaannya, penerbitan harus tetap berjalan, meskipun dalam kondisi minimal, karena ini adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Sayangnya, dalam dua edisi sebelumnya, tidak ada kejelasan soal jumlah maupun perputaran dana di LPP. Akibatnya, proses penerbitan pun terganggu. Bentuk mimbar, jumlah halaman, hingga banyaknya eksemplar yang dicetak, semuanya sangat bergantung pada ketersediaan dana. Maka, kepastian soal pendanaan seharusnya menjadi prioritas. Ini yang sampai sekarang belum sepenuhnya dibenahi.
Di awal kegiatan, memang terlihat bahwa dukungan dari pengurus AMA-K masih terlalu besar. Hal ini menjadikan LPP tampak kurang mandiri dalam menjalankan programnya.
Catatan Tambahan Tantang Kampus
Kini saya berada di semester sebelas. Sudah menjelang akhir masa kuliah.
Tadi siang, kami diminta membayar dua puluh ribu rupiah sebagai denda karena kehilangan jangka sorong yang digunakan dalam praktik kuliah gambar. Alat itu hilang dari laboratorium, dan karena tidak diketahui siapa pelakunya, seluruh peserta kuliah dikenai tanggung jawab bersama. Nilai kami akan ditahan sampai alat itu diganti.
Selain itu, kami juga diminta mengumpulkan uang lima ribu rupiah melalui HMJ untuk keperluan kartu seminar dan formulir biodata. Mungkin ini bagian dari upaya menghidupkan kembali kegiatan HMJ. Saya harap setidaknya dana ini benar-benar dipakai untuk hal yang produktif.

No comments:
Post a Comment