Saturday, 7 November 2009

Cerita dari Kampus: Tentang Agus, Pidato, dan Pangan Lokal


Kemarin saya berbincang dengan Agus di kampus. Juga sempat bertemu dan mengobrol dengan Arnold dan Hetty (keduanya sudah wisuda) serta Jufri, Ama Bobby dari Sabu, dan Arul.

Percakapan dimulai ketika Jufri menceritakan soal pidatonya Agus yang baru-baru ini tampil di Flobamora Mall. Beberapa hari sebelumnya, Agus memang sempat mengajak kami ikut lomba pidato, tapi ajakan itu kami tanggapi biasa saja. Ternyata, Agus berhasil meraih juara satu, mengalahkan para finalis lainnya. Topik pidatonya adalah tentang pangan lokal, isu yang memang sedang hangat, terutama sejak digalakkan oleh Gubernur Lebu Raya lewat program “Anggur Merah”.

Topik yang diangkat Agus itu kebetulan juga sempat diusulkan Vitus untuk menjadi tema buletin Mimbar edisi berikutnya. Vitus tampaknya melihat potensi topik ini untuk menarik perhatian, mungkin juga untuk akses dana ke Lebu Raya. Ironisnya, terbitan buletin edisi saat ini saja belum rampung, tapi kami sudah membicarakan edisi berikutnya.

Menurut cerita Agus, peserta lomba pidato banyak yang tampil luar biasa. Ada yang datang dari Alor, ada dari Sikumana, bahkan ada dari komunitas pemuda Gereja Protestan. Semua pasti merupakan wakil terbaik dari komunitasnya masing-masing.

Namun, Agus menyampaikan bahwa dalam lomba seperti ini, jaringan kerja (network) sangat berperan. Ketua dewan juri, misalnya, adalah seorang pimpinan KUB di Oebufu yang punya hubungan pribadi dekat dengan Agus.

Usai pidato, para finalis diminta mempertanggungjawabkan isi pidatonya. Agus ditanya: “Apa yang akan kamu lakukan untuk mempromosikan pangan lokal?” Jawaban Agus sederhana:

“Saya akan mulai dari rumah. Bila ada tamu datang, saya akan suguhkan pangan lokal. Teman-teman saya bisa ikut, begitu juga tetangga-tetangga saya. Setiap kali saya terlibat dalam sebuah kegiatan, saya akan menyediakan pangan lokal sebagai konsumsi.”

Sementara peserta lain menyatakan bahwa mereka akan melakukan sosialisasi ke kampung-kampung dan wilayah lain. Tapi Agus menanggapi, “Sosialisasi semacam itu pasti butuh dana besar.” Ia menambahkan, salah satu peserta bahkan menyatakan akan bekerja sama dengan petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), namun ketika ditanya apa kepanjangan dari PPL, peserta itu tidak tahu jawabannya.

Salah satu juri rupanya sangat mendukung Agus. Ia mengatakan bahwa di Paroki St. Maria Asumpta, tempat Agus menjabat sebagai ketua OMK, perhatian terhadap pangan lokal memang cukup besar dan sudah sering diperkenalkan lewat berbagai kegiatan. Saat perlombaan selesai, juri itu menyampaikan langsung kepada Agus bahwa ia memberi nilai tinggi untuk penampilannya.

Kualitas pidato Agus juga didukung oleh aspek teknis. Sound system ditangani oleh tim dari Yayasan Yaspurka, tempat Agus juga aktif. Petugas sound sudah memberi arahan sebelum giliran Agus tampil, mulai dari posisi mikrofon hingga jarak bicara yang ideal. Hasilnya, pidato Agus disampaikan dengan sangat baik.

Di lokasi acara, Ama Mekoz (yang sudah lebih dulu wisuda) juga hadir, menempati salah satu stan pameran pangan lokal. Jufri tahu tentang acara ini karena ibunya ikut serta. Ia bahkan menjemput ibunya kemarin dan membawa pulang banyak makanan dari sana. Jufri memang sering jadi sopir pribadi ayahnya, jadi urusan antar-jemput sering ia tangani sendiri.

Dalam lomba stan pameran, juara satu diraih oleh kontingen dari Flotim, sedangkan juara satu untuk pangan lokal diraih oleh peserta dari Pulau Sumba. Di sana, katanya, banyak bahan pangan yang di tempat lain tidak dianggap makanan, padahal sebenarnya bisa dimakan. Agus bercerita:

“Kalau saya ke kampung, saya akan perkenalkan makanan-makanan itu. Misalnya, ada jenis ubi yang di Adonara tidak dianggap makanan, padahal sebenarnya bisa dikonsumsi.”

No comments:

Post a Comment