Saturday, 7 November 2009

22 September

Masih libur hari ini. Pagi-pagi, saya berjalan kaki dari Matani menuju Oebobo. Tidak lama, hanya dua jam tepat. Saya tiba di sekretariat AMA-K sekitar pukul setengah tujuh pagi. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dibandingkan jalur-jalur lain yang pernah saya tempuh. Untungnya, peta jalan Kota Kupang sudah tersimpan di ponsel saya, jadi saya bisa memperkirakan jarak dan lama waktu tempuh dengan cukup akurat.

Setelah sepuluh menit di sekretariat, saya lanjut berjalan kaki ke Oeba. Jadi hari ini saya berjalan dari Matani, yang sejajar dengan Tarus, sampai ke Oeba. Maka perjalanan pagi ini terdengar seperti penggalan lagu Kupang "dari Tarus sampai Oeba jalan kaki". Di Oebobo, saya mengembalikan album yang sebelumnya saya ambil dan sekalian mengambil barang yang tertinggal di sekretariat.

Saya lalu menemui Alek untuk mengambil uang yang ia pinjam, tetapi ternyata belum tersedia. Bersama Santi, saya lanjut ke Vitus untuk membahas kepastian penerbitan Mimbar dengan metode fotokopi. Saya bersikeras agar seluruhnya difotokopi saja, termasuk sampulnya, meskipun itu berarti tampilannya tidak berwarna. Namun, Vitus menolak. Ia menyatakan siap mencarikan dana. Saya tetap mendesak untuk menggunakan cara fotokopi biasa, karena sudah sangat terlambat dan dana kami memang minim. Jadi, rencana paling realistis adalah menerbitkan edisi ini dengan fotokopi biasa. Tidak terlalu buruk. Yang penting, isi Mimbar-nya.

Dengan mempercepat terbitan ini, edisi berikutnya juga bisa segera diproses. Rencana saya, edisi depan akan mengangkat topik pemberdayaan pangan lokal yang sedang hangat dikampanyekan. Usul ini datang dari Vitus. Kontennya cukup mudah dikumpulkan—kami bisa menghubungi mahasiswa dari jurusan pertanian sebagai kontributor tulisan, mewawancarai Lebu Raya untuk bagian berita, dan menampilkan profil Agus Tokan, juara pidato tentang pangan lokal, untuk rubrik tokoh.

Tentu saja, semua ini butuh persiapan ekstra, termasuk mengaktifkan seluruh potensi sumber daya manusia di LPP. Tapi, saya sendiri kadang merasa sudah terlalu sering punya rencana. Terlalu banyak. Sampai-sampai bosan untuk sekadar mengkomunikasikannya lagi. Bagi saya, kontak dengan orang lain seharusnya adalah momen untuk merealisasikan rencana—bukan membicarakannya terus-menerus.

Di kamar saya, ada tumpukan rencana, dari yang besar sampai yang kecil. Tapi hanya sebagian kecil yang benar-benar dijalankan. Hari ini, saya kembali menyampaikan rencana lama: membuat perpustakaan LPP. Dulu, ketika Ka Sam berkunjung ke sekretariat, kami pernah membicarakan rencana ini. Saya sempat bertanya padanya apakah saya bisa mewujudkannya di bawah nama LPP. Ia menyetujui. Saya pun sempat menyusun konsepnya dalam bentuk proposal. Tapi hingga kini, belum juga terealisasi.

Padahal, dalam beberapa hari ini, saya sebenarnya bisa mulai mewujudkannya. Tapi rencana yang tertunda bukan hanya itu. Ada juga rencana kunjungan ke Ka Kor Kewa Ama yang sebelumnya sudah kami komunikasikan, namun belum juga terlaksana. Ada pula rencana membuat database AMA-K, yang hingga kini belum rampung. Edisi Mimbar kali ini pun sudah tertunda satu bulan.

Setelah menyelesaikan urusan hari ini, saya kembali ke Matani. Tentang database, saya sudah berdiskusi dengan Ama Sam Ola selaku kepala bidang keorganisasian, dan ia menyatakan kesediaannya membantu. Tapi seperti rencana-rencana lain, ini pun belum jalan. Mungkin karena sejak awal rencana ini hanya disusun sendiri, tidak melibatkan anggota lain. Padahal, untuk mewujudkannya, jelas perlu kerja kolektif, perlu dikerjakan secara kelembagaan.

Masalahnya, tingkat keterlibatan anggota dalam lembaga ini memang sangat minim. Melibatkan orang dengan komitmen yang solid rasanya seperti pekerjaan sia-sia, karena alasan yang belum sepenuhnya kami pahami. Kami mungkin bisa menyebut banyak alasan, tetapi realitasnya lebih kompleks dari yang bisa dijelaskan. Meski begitu, alasan-alasan itu harus tetap dicari dan dipahami, karena dari situlah mungkin kita bisa mengurai dan mengatasi persoalan ini.


No comments:

Post a Comment