Saturday, 7 November 2009

Bertahan untuk Single Fighter


Pagi ini saya menyelesaikan pekerjaan mengedit halaman buletin. Pekerjaan itu terpaksa saya tangani sendiri karena keterbatasan fasilitas dan kurangnya orang yang bersedia membantu. Tugas layout yang sebelumnya saya percayakan kepada seorang kawan ternyata berlarut-larut, dan sepertinya ia memang tidak berniat menyelesaikannya. Kalau saja ada sedikit itikad baik, tentu ia akan menghubungi saya untuk menuntaskan pekerjaan ini bersama.

Hal ini mengingatkan saya pada fenomena yang sering terjadi dalam media kepemudaan: semua seakan bergantung pada satu orang, bukan hasil kerja bersama. Ini bukan hal baru. Dalam sejarah, saya pernah membaca bahwa media pelajar dan pemuda di awal kemerdekaan pun kerap dikelola oleh segelintir, bahkan hanya satu orang tokoh. Apakah ini pertanda bahwa para pemuda memang sulit bekerja sama dalam bidang yang "kering tepuk tangan" seperti media? Bekerja di media, apalagi media internal, memang jarang mendapat perhatian apalagi pujian. Bahkan dalam forum-forum yang membahas media, para pekerjanya sering tidak banyak didengar.

Saya tahu betul perasaan itu. Dalam satu pertemuan, meski saya menjabat sebagai pimpinan penerbitan, pendapat saya tidak dianggap penting. Padahal, sayalah yang nantinya harus mengatur dan mengkoordinasikan pekerjaan semuanya. Dalam penerbitan kami, yang sebenarnya lebih bersifat latihan dan sering dianggap main-main, kami mencoba menghadirkan perbedaan dibanding lembaga sejenis sebelumnya yang nyaris tidak berfungsi. Kami bergerak dengan sumber daya terbatas, fasilitas pinjaman, dan tenaga kerja yang nyaris hanya oleh satu orang: saya sendiri. Namun saya banyak dibantu pada kegiatan wawancara, pengumpulan tulisan opini dan distribusi oleh beberapa yunior dan pendanaan oleh ketua umum.

Latar belakang saya memang cukup mendukung, namun waktu saya sangat terbatas. Bayangkan, saya harus menulis, mengetik, mengedit, hingga menyusun layout sendiri. Capek? Tentu saja. Dan kerugian lainnya, orang lain jadi tidak punya kesempatan belajar dunia penerbitan.

Saya tentu tidak bisa menyimpulkan sendiri mengapa kami gagal bekerja sama secara tim. Itu harus saya dengar dari orang lain. Tapi siapa yang mau atau peduli untuk mengatakan hal itu? Konsep melibatkan sebanyak mungkin kader dalam penerbitan ternyata sulit terwujud. Bahkan untuk pekerjaan yang sepele, semuanya saya kerjakan sendiri. Sumber tulisan berita sebagai bahan isi media pun sebagian besar saya tulis sendiri. Inikah yang disebut media kolektif?

Meski begitu, saya tetap memilih untuk menjalankan kegiatan ini daripada membiarkannya berhenti total. Mungkin keputusan ini benar, mungkin juga salah. Tapi saya bertahan. Mungkin orang lain pernah mengalami hal serupa. Bagi saya, ini bukan soal bisa atau tidak. Ini soal kelanjutan: bagaimana nasib lembaga ini ke depan? Bagaimana melestarikan tradisinya?

Kegiatan penerbitan tidak semudah yang terlihat. Anak muda umumnya lebih tertarik pada penampilan. Ketika ingin membuat media, fokus utamanya biasanya pada tampilannya. Lihat saja majalah dinding di kampus-kampus: papan mading yang indah dan menarik, tapi kosong tanpa isi.

Ketika program mading digalakkan, orang cenderung memulai dengan memikirkan papan, bukan kontennya. Begitu juga dengan buletin kami. Saudara ketua umum bahkan sejak awal sudah mewanti-wanti soal bentuk sampul: harus tebal, berwarna, dan memenuhi berbagai syarat visual lainnya. Saya tidak terlalu peduli dengan tampilan luar. Maka saat buletin terbit, sampulnya hanya dari kertas tipis dan hitam putih, difotokopi. Tentu wujudnya tidak menarik. Tapi proses kerjanya lebih sistematis. Dan yang pasti, saya berhasil menyelesaikannya jauh lebih cepat dibandingkan penerbitan-penerbitan sebelumnya.

No comments:

Post a Comment