Saturday, 7 November 2009

Jumad, 11 September

Catatan Hari Ini

Kemarin saya membaca novel Amerika berjudul Plain Truth: dalam bahasa Indonesia berarti Kebenaran Sederhana. Saya ambil dari Vera. Ini novel kriminal, dan sebagaimana judulnya, ceritanya menyentuh persoalan kebenaran, dalam bentuk yang tidak selalu tampak jelas. Pembukaannya menarik: menggambarkan daerah peternakan dengan cukup hidup, lalu langsung masuk ke konflik utama: kasus seorang bayi yang ditemukan meninggal di lingkungan komunitas Amish, sebuah kelompok religius yang mengisolasi diri di pedalaman Amerika.

Menariknya, penulis novel ini tidak terjebak dalam satu genre seperti banyak novelis populer lainnya. Dari daftar karyanya, terlihat bahwa ia cukup beragam dalam eksplorasi tema. Dan rupanya, ia pernah memenangkan penghargaan resmi dalam dunia kepenulisan. Patut dibaca lebih lanjut.

Sore kemarin, saya pergi bersama Obet ke rumah ketua RT untuk mengurus surat keterangan tidak mampu agar ia bisa mengajukan beasiswa. Katanya, beasiswa itu sebenarnya sudah tersedia sejak semester pertama. Saya juga sempat mengecek printer milik Erson, tapi katanya belum bisa digunakan.

Di kamar, cucian menumpuk. Sabun cuci habis. Dan seperti biasa, pekerjaan domestik terbengkalai ketika pikiran penuh oleh rencana-rencana lain.

Pagi ini muncul ide: coba hubungi Ian, barangkali bisa kerja sama untuk menulis cerpen yang akan dikirim ke Pos Kupang, atau media lain. Sekalian juga, saya ingin mengedit kembali novel yang sudah saya tulis. Mungkin Oos bisa diajak diskusi soal penulisan. Dia mantan seminaris, mungkin punya kenalan editor di ruang bahasa. Saya sadar, tulisan saya ini masih campur aduk dan morat-marit, dan kemampuan berbahasa saya pun belum memadai.

Di sinilah pentingnya peran seorang editor: untuk membantu menyusun dan meluruskan bahasa. Kalau bisa, saya juga ingin ajak Oos bergabung dengan kelompok latihan menulis yang kami bentuk. Sekalian tunjukkan padanya cara baru mengetik di HP, pasti bisa dipelajari.

Soal novel yang sedang saya garap, perkembangannya lambat. Banyak bagian harus ditambal-sulam. Tanpa komputer, semua terasa berat dan tidak efisien. Tapi saya tidak ingin berhenti.

Musim pancaroba sedang berlangsung. Banyak orang terserang sakit ringan: pilek, batuk, demam. Cuaca berubah begitu cepat : kadang panas, lalu mendadak dingin dalam hitungan jam.

Kabarnya, kemarin Ama pulang ke Larantuka dengan pesawat karena sakit. Tapi dari cerita yang saya dengar, sepertinya hanya pilek biasa. Ini mengingatkan saya pada kisah Ian, teman dari Maumere. Ia pulang kampung hanya karena orang tuanya bermimpi buruk. Di kampung, mimpi seperti itu dianggap pertanda. Maka setelah kuliah siang, ia langsung terbang ke kampung. Upacara adat diadakan malam itu juga. Keesokan harinya, ia kembali ke Kupang dan sempat ikut kuliah pagi.

Pagi ini saya berjalan di jalan raya. Tidak banyak orang berolahraga. Hanya terlihat sekelompok gadis berjalan bersama menuju misa pagi di kapel seminari. Mungkin mereka tinggal di asrama yang sama dan punya kebiasaan ikut misa pukul 5.30 pagi.

Di kota ini, suasana ramai baru terasa saat sore menjelang malam. Irama hidup orang kota memang berbeda jauh dengan orang desa: tidur larut, bangun saat matahari sudah tinggi.

No comments:

Post a Comment