Hari ini rencananya saya ingin menyelesaikan buletin yang sudah mulai dikerjakan beberapa waktu lalu. Sayangnya, wawancara yang direncanakan dengan Pak Ketua belum bisa dilakukan karena beliau tidak berada di tempat. Sisa pekerjaan yang belum terselesaikan hanya berupa satu opini dan rencana kerja ke depan, yang akan dimuat dalam rubrik Agenda.
Di sekretariat, suasananya sepi. Pak Ketua tidak ada, dan semua staf redaksi sedang berlibur. Tidak ada yang bisa diajak berdiskusi atau dimintai bantuan.
Pekerjaan penyuntingan akhirnya saya kerjakan di komputer milik tetangga saya, seorang dari Manggarai. Untungnya, ia jarang memakai komputernya, sehingga saya bisa menggunakannya selama beberapa hari terakhir.
Sebenarnya saya sempat menghubungi seorang kawan dari Adonara untuk membantu saya, khususnya menyediakan fasilitas komputer. Tapi dia menolak. Alasannya, dia tidak menerima flashdisk karena takut terkena virus. Di sisi lain, printer miliknya pun sedang kehabisan tinta, jadi sebenarnya kerja sama pun tidak memungkinkan.
Hal-hal seperti ini membuat saya teringat pada "politik kecil-kecilan" dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana membuat orang lain mengikuti kehendak kita tanpa paksaan langsung. Dulu, saya pernah punya adik kost yang memiliki HP, dan saya sangat butuh meminjamnya waktu itu. Tapi dia menolak mentah-mentah. Saya sudah mencoba berbagai alasan, bahkan yang ekstrem, tapi dia tetap keras kepala. Dia juga mengajukan alasan tandingan yang saya tahu hanya dibuat-buat.
Apa yang saya lakukan? Saya dekati seorang teman perempuan, yang memang dikenal suka membantu. Meski menurut saya biasa-biasa saja, ternyata dia cukup disegani oleh si adik kost tadi. Hasilnya? Dengan satu kalimat dari teman perempuan itu, adik kost saya langsung menyerahkan HP-nya tanpa perlawanan. Mungkin inilah yang disebut lobi: seni menyampaikan kehendak melalui orang ketiga yang punya pengaruh.
Beberapa hari ini, suhu udara cukup panas, baik siang maupun malam. Hari ini juga adalah hari pertama pelaksanaan MABIM di Politeknik Negeri Kupang. MABIM mereka dilaksanakan dengan bantuan pihak militer, entah dari kesatuan mana, tapi yang jelas, kedisiplinan adalah hal mutlak bagi mereka.
Obet, salah satu peserta, telah mempersiapkan perlengkapan MABIM sejak kemarin: karung goni yang dijadikan tas, seragam kegiatan, dan rambut yang sudah dicukur hampir botak sejak sore kemarin.

No comments:
Post a Comment