Saturday, 7 November 2009

Senin, 7 September

Catatan: Tentara dari Witihama dan Pekerjaan Hari Ini


Kemarin di A, seorang tamu datang untuk mengambil kiriman yang dibawa oleh T. Sayangnya, saya lupa menanyakan namanya. Mungkin karena merasa kurang sopan menanyakan nama secara langsung kepada orang yang lebih tua, sebuah kebiasaan yang masih kuat kami pegang.

Tamu itu berasal dari Witihama. Ia masih keluarga dengan Kak Rus, kenalan T yang tinggal dekat Kapela Tuan Meninu di Larantuka. Seperti pertemuan pada umumnya antara yang muda dan yang tua, ia pun memberi banyak dorongan dan berbagi pengalaman. Ia berpesan agar kami serius dalam kuliah karena perjuangan dan pengorbanan untuk sampai di kota ini bukan hal kecil.

Ternyata ia adalah anggota Angkatan Udara, berdinas di Penfui, dan tinggal di kompleks perumahan tentara. Ia bercerita, masuk tentara tahun 1990 setelah melewati seleksi yang sangat ketat. Dari hampir 3.000 peserta yang mengikuti tes, hanya sekitar 30 orang yang lolos ke tahap lanjutan di Jakarta. Di sana pun, seleksi masih berlanjut, dan hanya segelintir yang diterima. Salah satu syarat saat itu adalah memiliki prestasi di bidang olahraga. Ia sendiri memiliki sertifikat pelatih bela diri dan pernah beberapa kali menjuarai lomba lari 10K dari Witihama ke Waiwerang.

Setelah lulus SMP di kampung, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Santo Karolus, yang dikelola Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui. Di kesatuannya sekarang, ia cukup disegani, selain karena senioritas, ia juga satu-satunya anggota dari NTT di angkatan tahun 1990.

Tentang pendidikan militer, ia menekankan bahwa bagi anak-anak baru, seharusnya bimbingan datang lebih dulu sebelum tindakan keras. Baginya, perlakuan tegas baru pantas diberikan setelah dua bulan, ketika mereka sudah mulai mengerti sistem. Ia juga menekankan bahwa di Angkatan Udara, hukuman fisik yang berlebihan tidak dianjurkan karena bisa merusak sistem saraf, misalnya push-up dengan kepalan tangan yang bisa memberi tekanan berbahaya pada ujung tinju.

Ia sempat melanjutkan kuliah hukum di UNKRIS, namun tidak selesai karena mendapat panggilan pendidikan lanjutan ke Jawa. Setelah dua tahun, ia kembali dan kuliah lagi di FISIP Muhammadiyah. Ia masih berniat melanjutkan studi S2.

Secara pribadi, ia adalah sosok yang energik. Di luar jam kerja, jika tidak ada kegiatan kantor, ia masih sempat menyopiri mikrolet dari Penfui, tanpa kondektur. Dahulu, ia juga terlibat dalam bisnis pembelian kayu cendana. Harga kayu saat itu mencapai Rp300.000 hingga Rp700.000 per kilo. Mereka mencarinya sampai ke pedalaman Timor dan mengangkutnya sendiri. Sebagai tentara, ia mengandalkan wibawa seragam untuk menghadapi petugas.

Kini ia beralih ke bisnis kayu jati, persewaan sound system, dan memiliki sebuah mobil angkutan. Tapi meski usahanya lumayan besar, penampilannya sangat sederhana: ia hanya naik motor tua dan memakai helm usang. Di kesatuannya, ia dikenal sebagai yang paling tidak peduli penampilan.

Ia memiliki tiga anak laki-laki, yang tertua masih duduk di bangku SD. Kami juga sempat mengobrol tentang kampung, keadaan Adonara Barat, bisnis kayu seperti gaharu, dan hal-hal lain. Jelas, ia adalah kombinasi antara tentara dan pebisnis. Saat ini, ia sudah membeli sebidang tanah besar di daerah Baumata yang rencananya akan dijual kembali saat harga naik. Katanya, investasi itu penting, apalagi jika bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Sementara itu, hari ini saya memindahkan semua foto dari album ke CD, termasuk file-file LPP lainnya. Tujuannya agar terhindar dari risiko kerusakan data akibat virus, yang sering menyerang lewat flashdisk. Meski begitu, masih ada kekurangan. Template buletin untuk halaman banyak yang belum selesai dibuat, dan susunan folder pun belum sistematis. Saya berharap folder kerja ini nantinya tertata rapi, agar siapa pun yang terlibat bisa memahami langkah-langkah kerja buletin dengan mudah dan bisa membagi tugas dengan efektif.

Tulisan untuk Alwis hari ini juga belum rampung. Besok, semoga V bisa datang dengan dana cukup untuk mencetak dan menggandakan buletin. Dalam minggu ini, kami berencana menghubungi Kak Kornelis Kewa Ama, dan memastikan V bisa mendekati Kak K untuk keperluan tinta dan perlengkapan cetak lainnya.

Di tempat Kak S, sedang ada pekerjaan membuat bak penampung air. Sudah banyak orang berkumpul di sana, tetapi kami tidak diajak bergabung. Mungkin mereka ingin menyelesaikannya sendiri.


No comments:

Post a Comment