Friday, 2 August 2024

3 Agustus


Sabtu, 3 Agustus 2024, menjadi hari yang sangat padat sejak pagi hingga siang. Aktivitas saya dimulai dengan mengajar mata pelajaran TKR dengan topik kopling. Materi hari ini disampaikan secara teori, sebagai landasan sebelum praktikum yang dijadwalkan mulai hari Senin lusa. Setelah teori selesai, materi berikutnya adalah transmisi manual, yang diperkirakan akan memakan waktu cukup panjang.

Usai istirahat, saya membantu di ruang Prakerin untuk mengatur perubahan data bengkel siswa di Bima. Bengkel yang belum dikonfirmasi dipindahkan ke yang sudah fix. Masalah utama tinggal pada pembuatan surat pengantar dengan penyesuaian jumlah dan nama siswa, yang direncanakan akan diselesaikan Senin nanti. Rencana keberangkatan ke Bima sendiri dijadwalkan tanggal 9, atau sekitar Jumat minggu ini.

Saya juga sempat menginput nomor-nomor kontak siswa yang tersisa, serta melakukan koordinasi dengan bengkel service AC-DC untuk meminta tambahan kuota siswa. Karena tidak ada kontak pemilik, kami harus menghubungi siswa yang sudah praktik di sana. Untungnya, nomor-nomor siswa telah diinput dalam aplikasi, sehingga lebih mudah dicari berdasarkan nama bengkel.

Saturday, 29 June 2024

Refleksi Perjalanan: Antara Janji Politik, Swadaya, dan Masa Depan Pembangunan Desa

 


Hari itu, tanggal 30 Juni, saya sedang dalam perjalanan dari kampung T menuju L. Di benak saya masih terngiang perbincangan semalam tentang dinamika politik lokal, pembangunan, dan tantangan partisipasi masyarakat desa dalam mengelola masa depannya sendiri.

Kami sempat membahas sosok seorang politisi, pelaksana lapangan proyek pembangunan jalan yang kini mencalonkan diri sebagai wakil bupati. Ia memanfaatkan posisinya dalam proyek-proyek infrastruktur sebagai "sumbangsih politik" yang dibungkus dalam pembangunan jalan. Alat berat milik perusahaannya digunakan untuk membuka akses jalan ke berbagai pelosok desa. Di permukaan, ini tampak sebagai bentuk kepedulian sosial. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sesuatu yang lain.

Kegiatan itu ternyata tidak berkelanjutan. Alat berat dan proyeknya kini dipindahkan secara tiba-tiba, meninggalkan banyak janji yang tak terpenuhi. Warga yang sudah terlanjur berharap, kecewa. Mereka menelepon, namun tak ada jawaban. Para pekerja pun tak lagi bisa dihubungi. Jalan yang semula hendak dibuka pun kembali menjadi rencana kosong. Proyek yang katanya demi rakyat, berubah menjadi alat untuk membangun citra pribadi.

Tuesday, 30 April 2024

Catatan Reflektif Harian: Menelusuri Dua Hari Kegiatan dan Realitas Pendidikan di Lingkungan Sekitar

 


Dua hari lalu, saya mengajar di pagi hari. Seusai istirahat, saya izin keluar untuk mengurus pembayaran pajak. Sepulang dari kantor pajak, saya dan rekan-rekan mengisi PMM, mencetak berbagai surat, dan menyelesaikan sejumlah pekerjaan administratif lainnya. Hari itu cukup padat, dan sebagai penutupnya, kami menyelesaikan proses rekaman teks wawancara yang rencananya untuk T, yang rencananya akan dimuat dalam majalah dinding guru.

Kemarin, kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan membersihkan halaman gereja. Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Hari Pendidikan Nasional. Pagi ini, Pater S banyak bercerita kepada kami tentang perilaku para pelajar yang tinggal di asrama paroki.

Di paroki tersebut terdapat asrama putra dan putri. Dua tahun lalu, jumlah penghuni asrama mencapai 30 orang. Tahun berikutnya tinggal sepuluh. Tingkah laku para penghuni cukup meresahkan, dan walau telah diperingatkan berulang kali, pelanggaran tetap terjadi hingga akhirnya mereka semua pun dikeluarkan.

Sunday, 28 April 2024

Antara Kelas, Rapat, dan Pembelajaran Berdiferensiasi: Sebuah Refleksi Guru Kejuruan


Hari ini saya mengajar mata pelajaran Teknologi Dasar Otomotif di kelas X-C. Materi yang saya bawakan adalah tentang sistem kontrol dan sistem sensor pada kendaraan. Saya menyampaikan materi sebagaimana biasanya tanpa tahu bahwa di ruang guru sedang berlangsung rapat penting. Ketiadaan informasi ini murni karena saya tidak memiliki akses internet dan tidak ada pemberitahuan dari kelas atau rekan guru. Akibatnya, saya tidak mengikuti rapat yang membahas pengisian PMM, yang batas akhirnya ternyata jatuh besok.

Rapat tersebut juga menjadi wadah dialog antara guru yang diobservasi dengan kepala sekolah. Topik utama yang dibahas adalah tindak lanjut dari kegiatan pengembangan diri guru dan bentuk dukungan dari pihak lembaga. Ada instrumen bantuan yang harus diisi, diprint, lalu diinput secara digital. Saya menyadari bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), yang dalam pelaksanaannya kini lebih terstruktur dan terdokumentasi, meski belum sepenuhnya ideal.

Saya sempat menyampaikan bahwa baru di masa Menteri Nadiem-lah kegiatan PKG (Penilaian Kinerja Guru) mulai dilakukan secara sistematis dan menyentuh hampir seluruh lembaga pendidikan. Padahal, aturan tentang PKG dan PKB sudah lama ada. Hanya saja, penerapannya di masa lalu lebih bersifat formalitas dan dokumentatif tanpa makna. Kini, meskipun masih ada resistensi, upaya untuk menjalankan PKB lebih serius mulai tampak.