Hari itu, tanggal 30 Juni, saya sedang dalam perjalanan dari kampung T menuju L. Di benak saya masih terngiang perbincangan semalam tentang dinamika politik lokal, pembangunan, dan tantangan partisipasi masyarakat desa dalam mengelola masa depannya sendiri.
Kami sempat membahas sosok seorang politisi, pelaksana lapangan proyek pembangunan jalan yang kini mencalonkan diri sebagai wakil bupati. Ia memanfaatkan posisinya dalam proyek-proyek infrastruktur sebagai "sumbangsih politik" yang dibungkus dalam pembangunan jalan. Alat berat milik perusahaannya digunakan untuk membuka akses jalan ke berbagai pelosok desa. Di permukaan, ini tampak sebagai bentuk kepedulian sosial. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sesuatu yang lain.
Kegiatan itu ternyata tidak berkelanjutan. Alat berat dan proyeknya kini dipindahkan secara tiba-tiba, meninggalkan banyak janji yang tak terpenuhi. Warga yang sudah terlanjur berharap, kecewa. Mereka menelepon, namun tak ada jawaban. Para pekerja pun tak lagi bisa dihubungi. Jalan yang semula hendak dibuka pun kembali menjadi rencana kosong. Proyek yang katanya demi rakyat, berubah menjadi alat untuk membangun citra pribadi.
