Friday, 2 August 2024

3 Agustus


Sabtu, 3 Agustus 2024, menjadi hari yang sangat padat sejak pagi hingga siang. Aktivitas saya dimulai dengan mengajar mata pelajaran TKR dengan topik kopling. Materi hari ini disampaikan secara teori, sebagai landasan sebelum praktikum yang dijadwalkan mulai hari Senin lusa. Setelah teori selesai, materi berikutnya adalah transmisi manual, yang diperkirakan akan memakan waktu cukup panjang.

Usai istirahat, saya membantu di ruang Prakerin untuk mengatur perubahan data bengkel siswa di Bima. Bengkel yang belum dikonfirmasi dipindahkan ke yang sudah fix. Masalah utama tinggal pada pembuatan surat pengantar dengan penyesuaian jumlah dan nama siswa, yang direncanakan akan diselesaikan Senin nanti. Rencana keberangkatan ke Bima sendiri dijadwalkan tanggal 9, atau sekitar Jumat minggu ini.

Saya juga sempat menginput nomor-nomor kontak siswa yang tersisa, serta melakukan koordinasi dengan bengkel service AC-DC untuk meminta tambahan kuota siswa. Karena tidak ada kontak pemilik, kami harus menghubungi siswa yang sudah praktik di sana. Untungnya, nomor-nomor siswa telah diinput dalam aplikasi, sehingga lebih mudah dicari berdasarkan nama bengkel.

Masalah lain muncul dari siswa jurusan Audio Video yang melakukan Prakerin di Radio Cahaya Sumba. Ketua jurusan belum datang, sehingga siswa belum mendapat kepastian lokasi praktik baru. Guru jurusan merasa tidak memiliki kewenangan memutuskan, padahal tempat praktik sangat terbatas. Bahkan sempat muncul candaan dari kepala sekolah bahwa mereka bisa praktek di sekolah saja dengan tugas menyolder terminal TKR yang rusak. Namun untuk itu, harus ada alat dan pembimbing yang jelas.

Saya juga membantu mengedit MoU dengan DUDI. Ada kekeliruan pada dasar hukum kerja sama, misalnya pada MoU dengan PLN justru tertulis undang-undang bidang kesehatan. Ini menunjukkan lemahnya riset dalam penyusunan dokumen penting. MoU ini nantinya akan dibawa saat monitoring oleh kepala sekolah ke Bima, sehingga perlu diperbaiki dengan cermat.

Persoalan lain muncul terkait akomodasi siswa di Bima. Ada perbedaan konsep antara panitia dan Pak Suratman, yang ingin agar semua kebutuhan siswa (makan, tempat tinggal, antar jemput) ditangani oleh rekanannya. Panitia keberatan karena tidak mengelola keuangan di lokasi, kecuali dana sudah diserahkan penuh sebelumnya. Biasanya, bengkel resmi memang menyediakan penginapan, tapi dengan syarat siswa mematuhi aturan ketat.

Pembekalan siswa juga belum maksimal. Pihak panitia belum menyiapkan kisi-kisi yang jelas, sehingga materi pembekalan dikhawatirkan hanya menjadi formalitas belaka. Padahal pembekalan seharusnya mempersiapkan siswa menghadapi situasi nyata di tempat kerja: dari alat, interaksi sosial, hingga profesionalisme.

Setelah dari sekretariat, saya lanjut mengajar di kelas 10A dan 10C. Sayangnya, jam saya terpotong oleh guru Seni Budaya. Padahal, seharusnya mata pelajaran kejuruan mendapat alokasi lebih. Kondisi diperparah dengan banyaknya siswa yang tidak hadir karena beraktivitas di pasar pada hari Sabtu.

Senin nanti, saya berencana melengkapi input data siswa untuk jurusan Teknik Listrik yang masih belum lengkap.

Di luar urusan sekolah, anak saya yang kemarin sempat muntah karena dehidrasi, hari ini sudah membaik. Kami sempat jalan-jalan cukup jauh, dan tampaknya tubuhnya kelelahan. Sayangnya, ibunya memberinya susu bukannya air, yang justru memperberat kerja lambungnya. Saya coba jelaskan bahwa ini bukan karena hal mistis, melainkan kondisi biologis tubuh yang perlu dipahami dengan logis.

Pagi ini, sebelum aktivitas dimulai, saya sempat merenung tentang postingan salah satu siswa di media sosial yang menyatakan bahwa pelajaran di sekolah tidak berguna. Saya pikir, bukan kurikulumnya yang salah, melainkan penyampaian guru yang tidak mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata. Matematika, misalnya, sering dianggap tak berguna. Padahal, hampir semua aspek kehidupan—dari teknik, sosial, hingga bisnis—berpijak pada logika dan perhitungan. Bahkan tukang sekalipun, jika bekerja tanpa arahan teknisi, tetap membutuhkan pemahaman dasar matematika.

Anak tidak bisa menyusun sendiri kurikulum pembelajarannya karena ia belum tahu apa yang perlu ia pelajari. Justru pendidiklah yang harus membimbing dan membuka wawasan, bukan sekadar menyampaikan materi. Guru dan penulis buku teks harus bisa menjelaskan relevansi setiap pelajaran.

Refleksi ini menyadarkan saya bahwa pekerjaan di sekolah bukan hanya soal administrasi, tetapi juga membentuk pola pikir, membenahi komunikasi, dan merencanakan pendidikan yang relevan serta bermakna.

No comments:

Post a Comment