Dua hari lalu, saya mengajar di pagi hari. Seusai istirahat, saya izin keluar untuk mengurus pembayaran pajak. Sepulang dari kantor pajak, saya dan rekan-rekan mengisi PMM, mencetak berbagai surat, dan menyelesaikan sejumlah pekerjaan administratif lainnya. Hari itu cukup padat, dan sebagai penutupnya, kami menyelesaikan proses rekaman teks wawancara yang rencananya untuk T, yang rencananya akan dimuat dalam majalah dinding guru.
Kemarin, kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan membersihkan halaman gereja. Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Hari Pendidikan Nasional. Pagi ini, Pater S banyak bercerita kepada kami tentang perilaku para pelajar yang tinggal di asrama paroki.
Di paroki tersebut terdapat asrama putra dan putri. Dua tahun lalu, jumlah penghuni asrama mencapai 30 orang. Tahun berikutnya tinggal sepuluh. Tingkah laku para penghuni cukup meresahkan, dan walau telah diperingatkan berulang kali, pelanggaran tetap terjadi hingga akhirnya mereka semua pun dikeluarkan.
Pelanggaran pertama adalah pencurian ponsel. Untuk mendukung ketertiban belajar, ponsel disita sementara selama jam belajar dan dikembalikan saat istirahat. Suatu hari, salah satu ponsel hilang. Pastor paroki mengancam akan melaporkan ke polisi. Setelah ditekan, salah satu siswa akhirnya mengaku dan mengembalikan ponsel itu.
Pelanggaran kedua bahkan lebih mencengangkan. Para pelajar menggunakan spons tidur untuk kayu bakar dan memasak nasi dengannya. Padahal, paroki telah menyediakan listrik, air, dan sesekali bahan makanan maupun alat masak. Namun bantuan ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Anak-anak juga diberi kesempatan mengelola kebun, bahkan membuat sapu dari kelapa kering, tetapi tidak ada satupun yang melaksanakannya.
![]() |
Kisah ini mengingatkan saya akan masa tinggal di kota W. Saat itu, gaji saya memang di atas UMR, dan saya tidak perlu membayar tempat tinggal. Namun saya hidup di kost-kostan bersama beberapa pelajar. Walaupun tidak ada hubungan sekampung atau sekeluarga dengan mereka, sesekali saya membeli ikan untuk dimasak bersama. Namun, anak-anak tersebut terlihat malas bekerja. Saat ada daun kelapa yang jatuh, saya manfaatkan untuk membuat sapu. Tetapi sapu itu hilang dalam seminggu. Diduga dibawa ke sekolah.
Pak D juga pernah menceritakan pengalaman di asrama sekolah SMK. Awalnya, banyak siswa tinggal di sana dan semuanya berjalan baik. Namun lama kelamaan, terjadi kerusakan dalam perilaku. Pak M pernah membuat aturan tentang kebersihan asrama, tetapi siswa tidak mematuhinya. Mereka bahkan menyumbat lubang WC. Akhirnya, asrama itu ditinggalkan.
Kasus ketiga adalah perkelahian antara dua kelompok pelajar: satu dari kampung W, dan satu lagi dari kampung E. Kekacauan ini menambah daftar pelanggaran, sehingga mereka tidak diperbolehkan tinggal di asrama lagi. Peralatan masak juga tidak dirawat. Satu kelompok terdiri dari 5-6 orang, dan mereka sering mengambil alat kelompok lain daripada mencuci milik sendiri. Setelah dikeluarkan, mereka bahkan merusak pintu dan jendela.
Para penghuni asrama sebagian besar beragama Katolik, namun di asrama putri ada yang Protestan. Ketika dipanggil untuk ibadah pagi, mereka sering tidak muncul. Suatu waktu, mereka dihukum berjalan jongkok dari asrama ke gereja. Jaraknya jauh, dan hukuman itu sangat terasa.
Siang tadi, kami mendengar kabar beredarnya foto bugil salah satu siswi jurusan L. Konon, foto itu dikirim ke pacarnya lalu tersebar. Ketika ditanya, ia mengaku itu editan, tetapi banyak yang percaya itu asli. Setelah pengecekan nama peserta prakerin, ia tak muncul lagi. Siswi tersebut tinggal di rumah om-nya, seorang pendeta, namun tampaknya tidak bisa mengendalikan perilakunya.
Ada pula cerita tentang seorang siswi yang dibonceng oleh Pak A, yang saat itu mengaku belum berkeluarga padahal sudah menikah. Cerita ini meluas ke perbincangan tentang bagaimana guru bimbingan konseling harus menangani kasus-kasus seperti ini. Namun menurut Pak A, guru BK malah terkadang memperburuk keadaan.
Hari ini saya kembali disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Pertama, membantu operator sekolah menginput data guru pengampu mata pelajaran. Data ini saya ambil dari sistem “Satu Data Guru”. Ini mencakup jurusan O dan L. Untuk jurusan A, operator sudah punya datanya sendiri.
Kedua, saya memandu sejumlah guru untuk mengisi PMM. Ketiga, saya mengatur ulang password teman-teman agar tidak lupa. Semuanya dilakukan melalui sistem Satu Data Guru. Terakhir, saya membuat peta denah lokasi untuk usulan pembangunan unit gedung baru. Tahun ini kabarnya akan ada pembukaan jurusan baru di SMK, dan ini memerlukan pengusulan gedung tambahan.
.jpeg)
.jpeg)
No comments:
Post a Comment