Jika anda melihat keberadaan para guru hari ini, sesungguhnya apa yang tampak adalah hasil dari investasi yang ditanamkan oleh pemerintahan dan para pendidik dua atau tiga dekade yang lalu. Kami, para guru hari ini, bukan lagi sedang bekerja untuk mengejar mimpi pribadi kami. Sebab, bagi banyak dari kami, mimpi-mimpi itu telah kami capai atau kami tinggalkan di masa lalu.
Apa yang kami capai saat ini adalah cerminan dari impian kami di usia muda, dua puluh atau tiga puluh tahun silam. Bila hari ini kami masih sibuk menyusun impian baru untuk diri kami sendiri, maka sesungguhnya kami telah sangat terlambat. Keterlambatan itu menunjukkan bahwa kami gagal dalam hal paling mendasar: merencanakan hidup kami dengan tepat sejak dini. Dan jika kami gagal dalam merencanakan hidup kami sendiri, bagaimana kami bisa menjadi perencana yang baik untuk masa depan kalian—anak-anak didik kami?
Sudah saatnya kami berhenti sibuk merencanakan masa depan pribadi. Kini, waktunya adalah untuk memusatkan seluruh perhatian kami pada kalian. Masa depan kalianlah yang kini menjadi proyek kehidupan kami. Kami harus menyadari bahwa keberhasilan kami sebagai guru tidak lagi diukur dari capaian pribadi, tetapi dari sejauh mana kami mampu menanamkan nilai, semangat, dan impian dalam diri kalian.
Jika hari ini kami gagal mendidik kalian, maka kegagalan itu akan menjadi warisan buruk yang akan kalian bawa ke masa depan. Dan sebaliknya, jika kami berhasil menanamkan impian, karakter, dan arah yang benar, maka dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang kalian akan menjadi manusia-manusia yang berhasil. Dalam hal itu, keberhasilan kalian adalah kemenangan moral kami sebagai pendidik.
Impian-impian yang kami tanamkan kepada kalian bukanlah angan kosong. Ia harus dibarengi dengan usaha, kemauan, dan kebiasaan yang baik. Maka jika kami tidak memiliki rencana yang jelas, tentang nilai-nilai, pengetahuan, atau keterampilan apa yang harus kami tanamkan, maka kami hanyalah bagian dari rantai panjang kegagalan antargenerasi. Kami akan menjadi generasi guru yang gagal membentuk generasi penerus yang unggul.
Hari ini, target utama kami bukan lagi tentang pencapaian diri, melainkan tentang kemajuan kalian. Dengan memikirkan kemajuan kalian, kami berusaha mengembangkan seluruh potensi kami sebagai pendidik. Tugas kami adalah membentuk pribadi-pribadi yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Jika hari ini kami mampu menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan, itu adalah hasil dari karakter dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh guru-guru kami dahulu. Dan karena itu pula, kami harus menanamkan hal serupa, bahkan lebih baik, dalam diri kalian. Supaya kelak, ketika kalian menghadapi dunia dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang, kalian mampu berdiri tegak dan membawa perubahan.

No comments:
Post a Comment