Belakangan ini, di kalangan para guru tengah ramai diperbincangkan mengenai mata pelajaran baru bernama KKA, singkatan dari Koding dan Kecerdasan Artifisial. Diskusi bermunculan, terutama terkait nama mata pelajaran ini dan bagaimana isi atau materi pembelajarannya akan diajarkan kepada siswa.
Sejumlah guru mulai membahas berbagai aplikasi yang bisa digunakan untuk ngoding, seperti JavaScript, HTML, dan lain-lain untuk tampilan web, serta Java, Python, atau MySQL untuk pengembangan aplikasi. Hal ini memicu kepanikan di kalangan guru yang belum pernah mempelajari atau mendalami dunia pemrograman, karena itu memang bukan bidang mereka.
Namun, yang belum banyak disadari oleh para guru adalah bahwa Capaian Pembelajaran (CP) untuk mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial ternyata sama persis dengan CP pada mata pelajaran Informatika. Artinya, materi yang diajarkan identik.
Bayangkan, dalam satu kelas ada dua mata pelajaran berbeda. Tetapi ketika diajarkan oleh guru yang berbeda, eh ternyata isinya sama. Lalu, apakah perlu ada dua personil guru untuk mengajarkannya sesuai dengan pembagian jam secara tradisional? Ataukah cukup satu guru saja yang ditugaskan? Jika dua guru mengajarkan ulang materi yang sama, bagaimana pertanggungjawaban penggunaan anggaran untuk membayar mereka? Ini jelas merupakan pemborosan sumber daya dan anggaran negara.
Dari sudut pandang pengajaran di jenjang pendidikan dasar dan menengah, kegiatan ngoding sebenarnya bukanlah sebuah disiplin ilmu tersendiri, melainkan sebuah keterampilan teknis. Koding bisa disamakan dengan pekerjaan seorang tukang, mekanik, atau tukang kebun, yang melaksanakan instruksi teknis berdasarkan arahan dari ahli seperti insinyur sistem atau analis informasi. Kegiatan koding hanyalah aktivitas untuk menghubungkan manusia dengan mesin melalui kode-kode yang menghasilkan antarmuka tertentu.
Karena koding tidak berdiri sebagai ilmu tersendiri, tidak mengherankan jika dalam menyusun CP untuk mata pelajaran ini, para penyusunnya kebingungan. Akhirnya, CP yang sudah mapan dari mata pelajaran Informatika pun diambil bulat-bulat dan disalin 100% ke dalam mata pelajaran baru ini.
Sistem pendidikan di negara kita memang penuh ironi. Struktur keilmuan bukan dikembangkan oleh ilmuwan berdasarkan riset dan perkembangan cabang ilmu baru, namun mendasarkannya pada arahan dari politisi tertentu yang sering kali tidak memahami epistemologi dan ontologi suatu ilmu. Maka muncullah mata pelajaran koding. Padahal koding sendiri bukanlah sebuah ilmu yang sudah mapan, melainkan hanya seperangkat keterampilan yang bisa diterapkan juga dalam berbagai bidang ilmu lainnya.
Pesan bagi para guru:
Jika Anda diminta mengajar mata pelajaran ini, berkoordinasilah dengan guru Informatika di sekolah Anda. Atur pembagian tugas, dan anggap saja mata pelajaran Informatika mendapat tambahan jam pelajaran. Jangan sampai kedua guru mengajarkan hal yang sama secara terpisah. Ini tidak efisien, malah membingungkan dan membuang sumber daya.
Anggap saja Koding ini bukan mata pelajaran baru, melainkan penambahan jam dari mata pelajaran Informatika yang sudah ada.
Selamat mengajar!

No comments:
Post a Comment