Saturday, 7 November 2009

Catatan Menjelang Wisuda A M

Hari ini ada persiapan wisuda Universitas Nusa Cendana (Undana). Yang akan diwisuda cukup banyak, termasuk salah satu teman lama saya, A M. Kami sudah berteman sejak SMA dan sama-sama melanjutkan ke Fakultas Teknik. Kini, kami sudah memasuki semester sebelas, dan A termasuk yang berhasil wisuda pada semester sepuluh, tergolong cepat, mengingat rata-rata mahasiswa teknik menyelesaikan kuliah cukup lama.

Rencananya, kami akan ke lokasi wisuda dengan jalan kaki saja karena tempatnya cukup dekat dari kost kami, yaitu di Oebufu. Tapi akhirnya kami naik oto, karena Awis kebetulan punya uang untuk ongkos. Kami hanya berjalan kaki sampai ke cabang El Tari III, lalu naik oto dari sana.

Perjalanan ini menjadi semacam momen refleksi bagi saya, mengingat kembali jejak panjang yang telah kami tempuh. Kami sama-sama berasal dari daerah pedalaman pertanian di Adonara, dari desa yang dahulu satu, Desa Baya. Kini, desa itu telah dimekarkan menjadi dua, namun tetap menggunakan nama lama, yang sebenarnya mengacu pada nama tempat di kampung kami, bukan di wilayah mereka yang baru.

Di desa seperti itu, profesi guru sangat dihargai. Banyak guru yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang tinggi. Di desa tetangga, seorang guru bernama Pak I bahkan berhasil mendidik anak-anaknya hingga jadi dosen di perguruan tinggi. Ada yang sudah bergelar Doktor Fisika, Master Teknik, dan dua lainnya kini menempuh studi S2. Pak I berasal dari Desa Lite. Banyak guru lain di wilayah kami pun memiliki semangat serupa dalam menyekolahkan anak-anak mereka.

Dulu, kalau ada anak yang malas sekolah, rotan adalah hadiahnya. Anak-anak yang bolos akan dicari sampai ke kebun dan hutan. Saya masih ingat, di masa SD dulu, beberapa teman saya dicari sampai ke kebun-kebun jika sengaja tidak ke sekolah. Disiplin keras seperti ini mungkin adalah warisan dari pendidikan misi Katolik yang dikenal tegas dan konsisten dalam membentuk karakter.


Saya ingat cerita seorang Pastor yang pernah mengatakan bahwa ia adalah anak paling malas sekolah saat kecil. Gurunya, yang juga wali kelasnya, tidak tinggal diam. Satu hari, seorang siswa diutus untuk menjemputnya ke kebun. Karena tidak mau ikut, siswa utusan itu mengikat tangannya, menaikkannya ke atas kuda, dan membawanya ke sekolah. Anak yang bengal dan  malas itu kini dikenal sebagai Tuan Kopong Keda, seorang Pastor terkemuka di Adonara. Saat tahbisannya, ia bahkan secara khusus mendoakan guru yang dulu begitu keras padanya, yang hadir pula dalam upacara tahbisan itu.

Kisah-kisah semacam ini terus hidup. Bahkan A, yang akan diwisuda besok, adalah anak dari Pak B, seorang guru dari W. Kami masih satu wilayah paroki, jadi kalau pulang kampung, kami biasanya ikut misa bersama. Karena kekurangan pastor, perayaan besar seperti Natal dilakukan secara terpusat untuk enam kampung sekaligus.

Saya dan A cukup dekat. Di SMA, kami satu kelas di jurusan IPA. Di kampus, kami juga sering terlibat dalam kegiatan seperti KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik). Jadi, kalau saya tidak hadir di acara wisudanya, pasti dianggap keterlaluan, apalagi saya sudah diundang. Tapi karena kemungkinan besar saya tidak bisa datang besok, saya putuskan untuk hadir malam ini dan menyampaikan selamat secara langsung. Hahaha... alasan klasik untuk menghindari datang ke pesta besok. Apalagi saya memang tidak terlalu suka acara pesta, tidak bisa dansa dan sejenisnya.

Malam ini, saya pulang jalan kaki. Sempat diajak V untuk menginap, tapi saya menolak. Tidak banyak gunanya tinggal di sana saat semua orang sudah pulang. Lebih baik kembali ke kost dan menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda.

Saat duduk di tempat acara tadi, saya melihat banyak orang berkumpul: keluarga, teman, dan kenalan. Ini momen bersosialisasi, saling mengenal satu sama lain. Orang dari kampung bisa bertemu kembali dengan sesama warga kampung yang kini sudah lama menetap di Kupang. Biasanya mereka saling mengenal dari nama orang tua atau asal kampung. Namun sayangnya, interaksi semacam itu masih terbatas pada hubungan keluarga atau kelompok suku. Diskusi dan pendekatan pun sering hanya berkembang dalam lingkaran kelompok kecil, bukan melebar jadi forum yang inklusif.

Meski begitu, ajang seperti ini tetap penting: jadi ruang tukar cerita antara generasi muda dan orang tua, yang jarang bisa terjadi dalam keseharian. Obrolan-obrolan hangat, meski kadang diselingi topik basi soal politik, tetap menarik. Banyak mahasiswa ikut nimbrung, sebagian memang terbiasa aktif dalam diskusi-diskusi semacam itu.

Malam ini terasa hidup. Dulu, kawasan belakang Undana ini hanyalah hutan alang-alang, apalagi saat musim hujan. Kini, kawasan itu sudah berkembang menjadi pemukiman padat dengan deretan kost mahasiswa, karena banyak kampus berdiri di sekitarnya. Kampus FISIP Unika juga baru pindah ke daerah ini, menambah ramai suasana dan mengubah lanskap tempat yang dulu begitu sepi.

No comments:

Post a Comment