Saturday, 7 November 2009

Halaman pertama.

(1)

Ini halaman pertama.

Soal catatan yang "bagus", saya pikir itu hanya soal penilaian saja, dan penilaian selalu subjektif. Bagi saya, tidak ada yang namanya catatan yang bagus, bahkan jika itu ditulis oleh Sidney Sheldon (pengarang favorit ibu-ibu) sekalipun. Yang ada hanyalah peristiwa yang kuat, dan penafsiran yang tajam dan kaya atas peristiwa itu. Soal penulisan? Itu soal kebiasaan dan keterampilan teknis yang bisa dilatih.

Sebuah catatan yang sederhana namun terasa "hidup", biasanya ditulis oleh mereka yang sudah cukup lama mengasah keterampilan menulis, baik lewat praktik maupun lewat pembacaan terhadap karya-karya penulis lain. Banyak dari kita belajar menulis dengan meniru. Dan itu tidak salah. Bahkan diperlukan.

Setiap pengarang bisa punya gaya khasnya sendiri. Dalam prosesnya, seorang penulis akan sampai pada titik di mana ia menemukan suaranya sendiri.
Hahaha... Terlalu teoritis ya? Padahal saya sendiri sedang melanjutkan proses latihan teknis yang sederhana itu:menulis.

Salah satu latihan yang sangat membantu dan patut dijadikan pegangan bagi siapa pun yang ingin belajar menulis adalah dari buku kecil berjudul Berguru kepada Sastrawan Dunia (entah siapa pengarangnya, saya lupa). Salah satu latihannya sangat membekas:
Bayangkan, saya pernah diminta untuk menggambarkan tangan seorang petani. Kalau Anda pernah mencobanya, mungkin Anda tahu betapa sederhana tapi kuatnya latihan ini.

Contoh penggambarannya seperti ini:

“Tangannya yang cokelat itu diletakkannya di atas meja. Ada batas yang sangat jelas antara bagian atas yang berwarna tua dan bagian bawah yang lebih terang. Dua bekas luka memanjang terlihat di kelingking kirinya. Kulit di buku-bukunya mengkerut, berlipat, mirip perut babi gemuk. Cabang-cabang urat menonjol, menjalar di atas tulang telapak seperti tali-temali di atas ranting. Bulu-bulunya yang hitam tumbuh lebat dari pergelangan ke atas. Kuku-kukunya, yang tampaknya sudah seminggu tak dipotong, ujungnya menghitam...”

Dan masih berlanjut...

Latihan lain yang saya ingat adalah membuat variasi setting tempat berdasarkan suasana hati tokohnya. Pernahkah Anda mencoba menggambarkan dermaga dari sudut pandang seseorang yang sedang jatuh cint, lalu membandingkannya dengan penggambaran dari seseorang yang sedang sedih?
Gambarnya pasti berbeda.
Dan di sanalah keindahan kepenulisan itu bekerja.

No comments:

Post a Comment