Menghargai hasil kerja orang lain adalah naluri penting dalam dunia kerja media, terlebih lagi dalam media kami yang sedang berada di ambang sekarat. Di sini, setiap orang dituntut peka, mampu menangkap sisi positif dari hal sekecil apa pun yang dilakukan orang lain, meski tampaknya sepele.
Di Mimbar, beberapa edisi lalu, kami punya penyumbang opini yang cukup produktif: Ama S O. Tapi bagaimana kesan dari mantan ketua, yang kebetulan dekat dengan Ama S? Abang R R T justru sempat meragukan kemampuannya. Ia bertanya, benarkah Ama S bisa menulis opini secara utuh?
Faktanya, saat itu Abang R belum tahu bahwa Ama S telah rutin menyumbangkan tulisannya. Saya sendiri pernah menugaskan V N menulis opini. Saya berikan judul dan arahannya, dan ia kerjakan dengan penuh semangat, mungkin karena sesuai dengan bidang studinya, yaitu bahasa.
Saya juga pernah menugaskan orang lain. Secara kemampuan, mereka bisa saja menyelesaikannya, tapi mereka sudah kehilangan kepercayaan diri jauh sebelum mencoba. Sebut saja A, yang kuliah di jurusan hukum. Kali ini, Pak Ketua pun meragukan apakah A mampu menyelesaikannya. Padahal, topik yang diangkat justru sangat relevan dengan disiplin ilmunya.
Keraguan ini hanya mengulang keraguan sebelumnya terhadap Ama S. Tampaknya ada kecenderungan di lingkungan kami untuk menganggap pekerjaan menulis opini hanya layak dilakukan oleh mereka yang berada di lingkaran pengurus inti. Ironisnya, mereka justru sering kekurangan waktu, bahkan kemampuan menulis mereka pun belum tentu sebanding dengan kelihaian mereka berpidato.
Mereka kerap menyatakan niat menyumbang tulisan, tetapi hanya segelintir yang benar-benar menyelesaikannya. Di kalangan ini, diplomasi lisan memang andal. Tapi pekerjaan menulis tetap butuh tenaga lain yang bersedia menyusun ide ke dalam bentuk teks.
Saya menduga, rendahnya kepercayaan diri menulis ini bersumber dari anggapan bahwa orang harus menulis tentang hal-hal besar dengan bahasa yang megah. Padahal, mengarang itu sesederhana memindahkan apa yang kita tahu ke atas kertas.
Ketua bisa menulis tentang tantangan merangkul anggota; anggota bisa mengkritisi pengurus; mahasiswa hukum bisa menulis soal masalah hukum yang ia pelajari; atau siapa pun bisa menulis pencerahan dari sudut pandang ilmunya masing-masing.
Menulis tidak butuh hal besar. Menulis adalah menulis itu sendiri: sebuah keterampilan yang dilatih lewat praktik. Gagasan sekecil apa pun layak ditulis dan dihargai. Sebab, esensi dari tulisan adalah membagikan ide. Sama seperti mengirim pesan singkat, hanya saja informasi dalam tulisan jauh lebih banyak.
Saya pernah dengar nasihat: "Tulislah apa pun yang kamu tahu, gagasanmu, saranmu, semudah kamu mengucapkannya." Bagi orang yang membutuhkan, informasi ini bisa sangat berarti.
Misalnya, saat saya pergi dua hari ke luar kota. Bagi saya, perjalanan itu biasa saja. Saya bahkan malas menceritakannya. Tapi, hal-hal yang tidak saya ucapkan justru menjadi isi tulisan saya: sebuah catatan berjudul "Melirik Air Sebagai Pengganti Bahan Bakar", yang kini siap dimuat di Mimbar.
Bagi saya, catatan itu mungkin tidak penting. Sayalah pelakunya, dan ingatannya telah tertanam di kepala saya. Tapi, bagi orang lain, catatan itu bisa bernilai informasi. Ketika saya ikut tim pemasangan turbin di desa, catatan perjalanan saya bisa memberikan pengetahuan yang berguna bagi mereka yang belum pernah mengalaminya.
Informasi yang disimpan sendiri tidak akan berguna. Di sinilah peran media. Saya tidak mungkin mengumpulkan orang lalu menceritakan kisah itu. Waktu dan tempat tak akan selaras. Tapi tulisan bisa menjangkau siapa pun, kapan pun. Media adalah perantara yang memungkinkan hal ini.
Lewat media, pengalaman kita tidak berhenti sebagai kenangan pribadi. Ia bisa menjadi cerita yang dibagikan. Dan Anda, sebagai penulis, pun dikenal.
Sederhana saja: Anda alami, amati, atau gali informasi. Lalu Anda tuliskan. Sayangnya, kebiasaan menulis tidak tumbuh karena dominasi budaya lisan. Kakak atau senior seringkali bicara panjang lebar, kalau saja itu ditulis, tentu akan lebih bermanfaat: bisa dibaca ulang, dikritisi, dan dikembangkan.
Komunikasi lisan pun kadang kurang efektif, kecuali untuk diplomasi atau percakapan biasa. Kenapa? Karena banyak yang hanya merupakan pengulangan. Istilah kerennya duplikasi. Apa yang Anda sampaikan hari ini mungkin sedang disampaikan juga oleh ratusan orang lain di tempat berbeda. Ada baiknya gunakan waktu untuk menulis atau bekerja, daripada menjadi corong ide basi yang berulang-ulang.
Penulis ribuan tahun sebelum Yesus pernah berkata: “Tidak ada yang baru di bawah matahari.” Semua pernah dipikirkan, semua pernah diperdebatkan. Hanya bentuk dan kemasannya yang berubah.
Jadi, jika Anda berapi-api menyampaikan hal-hal "baru" kepada orang muda, barangkali sebenarnya itu bukan hal baru, hanya saja mereka belum pernah mendengarnya. Dan itulah nilai informasi: bukan soal kebaruan absolut, tetapi apakah ia bermakna bagi orang yang menerimanya.


No comments:
Post a Comment